Media Kampung – 11 Maret 2026 | Birmingham, Inggris – Pada Minggu malam, 8 Maret 2026, final All England Open 2026 mempertemukan pasangan ganda putra Malaysia, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik, dengan duo Korea Selatan, Kim Won‑ho dan Seo Seung‑jae. Pertarungan tiga gim yang berlangsung sengit berakhir dengan skor 21‑18, 12‑21, 19‑21 yang menandai kegagalan ganda putra nomor satu Malaysia merebut gelar juara.

Herry IP menegaskan: keberuntungan tidak berpihak

Kepala pelatih ganda putra Malaysia, Herry Iman Pierngadi – yang akrab disapa Herry IP – memberikan komentar terbuka sesaat setelah pertandingan berakhir. Dalam wawancara yang dilansir New Straits Times pada Selasa, 10 Maret, ia menyatakan bahwa “Aaron‑Wooi Yik bermain dengan baik, tetapi mungkin keberuntungan tidak berpihak kepada mereka untuk menjadi juara di All England.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meski kualitas permainan tidak diragukan, faktor keberuntungan tetap menjadi elemen kunci dalam kompetisi tingkat dunia.

Analisis teknis: kesalahan di poin krusial

Herry IP tidak hanya menyalahkan nasib semata. Ia menyoroti dua aspek yang menurutnya menjadi penyebab utama kekalahan: kesalahan pada poin krusial dan kurangnya fokus pada fase-fase penting pertandingan. “Mereka masih kerap melakukan kesalahan di poin krusial dan kurang fokus,” ujar Herry, menambahkan bahwa “di level tertinggi tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan pada poin‑poin krusial. Hal inilah yang membedakan antara kemenangan dan kekalahan.”

Selama tiga gim, Aaron/​Soh menunjukkan keberanian dengan menyerang agresif di gim pertama, berhasil mengamankan 21‑18. Namun, pada gim kedua, lawan Korea Selatan menyesuaikan taktik, memaksa pasangan Malaysia melakukan beberapa servis yang tidak optimal, mengakibatkan mereka hanya memperoleh 12 poin. Pada gim penentu, pertarungan kembali ketat, namun satu kesalahan di net pada poin ke‑18 memberi Kim/​Seo keunggulan yang tidak dapat dipulihkan.

Reaksi publik dan media

Berbagai portal olahraga Indonesia dan Malaysia, termasuk Okezone dan iNews.id, menyoroti pernyataan Herry IP. Artikel di iNews.id menambahkan kutipan lengkap pelatih, sekaligus menyoroti catatan pentingnya: “Mereka harus menyadari kenyataan keras—di level tertinggi tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan pada poin‑poin krusial.”

Sementara itu, media internasional menilai performa Aaron/​Soh tetap patut diapresiasi. Meskipun tidak berhasil mengangkat trofi, pasangan ini berhasil menampilkan permainan yang seimbang, menandakan potensi besar untuk masa depan, khususnya menjelang Piala Dunia BWF 2026 yang akan datang.

Target jangka panjang: kembali ke puncak dunia

Setelah kegagalan ini, Herry IP menegaskan bahwa fokus utama tim kini beralih ke persiapan Piala Dunia dan turnamen‑turnamen besar lainnya. “Kami akan memperbaiki titik‑titik lemah, meningkatkan konsentrasi pada momen-momen krusial, serta memperkuat mental juara,” katanya. Pelatih asal Indonesia ini menambahkan, “Kami tidak akan menyerah pada satu kegagalan. Kami percaya bahwa dengan kerja keras dan disiplin, kami dapat kembali menjadi yang terbaik di dunia.”

Keberhasilan Aaron Chia dan Soh Wooi Yik di Olimpiade Paris 2024, dimana mereka berhasil meraih perunggu, tetap menjadi pencapaian bersejarah bagi bulu tangkis Malaysia. Kegagalan di All England ini dipandang sebagai pelajaran penting untuk mematangkan strategi dan mental tim menjelang kompetisi selanjutnya.

Dengan dukungan federasi bulu tangkis Malaysia serta pelatih-pelatih berpengalaman, harapan masih tinggi bahwa duo ini dapat mengatasi kelemahan yang teridentifikasi, kembali ke podium dunia, dan mungkin suatu hari kembali mengangkat trofi All England yang kini masih berada di tangan pasangan Korea Selatan.