Bertanding di kandang sendiri, PSV Eindhoven menorehkan hasil yang mencengangkan dalam gelaran UEFA Champions League 2025/26 ketika menjamu Napoli di matchday 3 fase grup. Dengan skor akhir 6–2 untuk tuan rumah, laga yang berlangsung pada Rabu (22/10/2025) dini hari WIB menunjukkan dominasi penuh PSV sekaligus kebobolan dramatis bagi Napoli.
Meski Napoli sempat unggul terlebih dahulu, momentum negatif bagi tim tamu kemudian terbuka lebar—termasuk insiden kartu merah yang mengubah arah pertandingan. Artikel ini mengulas jalannya pertandingan, faktor‑kunci kemenangan PSV, hingga implikasi dari hasil ini bagi kedua tim di kompetisi Eropa.
Babak Awal: Napoli Unggul, Tetapi Tidak Bertahan Lama
Gol Cepat dari Tim Tamu
Napoli membuka pertandingan dengan cara yang tampak menjanjikan. Pada menit ke‑31, pemain mereka Scott McTominay berhasil mencetak gol melalui sundulan memanfaatkan umpan silang dari Leonardo Spinazzola. Keunggulan ini tampak sebagai tanda bahwa tim Serie A siap mengendalikan laga.
Pembalikan Kilat dari PSV
Namun, keunggulan Napoli tidak berlangsung lama. Hanya dalam rentang kurang dari sepuluh menit, PSV berhasil membalikkan keadaan. Sebuah gol bunuh diri dari Alessandro Buongiorno pada menit ke‑35 menyeimbangkan skor. Tiga menit kemudian, melalui serangan balik cepat, Ismael Saibari mencetak gol dan membawa PSV unggul 2–1 menjelang akhir babak pertama.
Pembalikan keadaan ini menjadi titik krusial: dari tim tamu yang nyaman memimpin, menjadi tuan rumah yang mengendalikan momentum.
Penentu Kemenangan: Kartu Merah dan Rentetan Gol Tambahan
Kartu Merah Tak Terduga
Momentum berpindah semakin dramatis ketika Napoli harus menuntaskan permainan dengan 10 pemain. Striker mereka, Lorenzo Lucca, diusir pada menit ke‑76 setelah protes keras terhadap keputusan wasit—kartu kuning keduanya. Keputusan ini dianggap “konyol” oleh sejumlah pengamat karena tim tamu semestinya menjaga kedisiplinan.
Dominasinya PSV di Babak Kedua
Dengan keuntungan jumlah pemain, PSV mulai menambah tekanan. Dennis Man menjadi sosok penting dengan dua gol tambahan dari jarak jauh yang menambah margin keunggulan. Napoli sempat memperkecil melalui McTominay kembali, namun tanggapan tak terbendung dari PSV pun datang dua gol cepat: satu dari Ricardo Pepi (masuk sebagai pemain pengganti) dan satu lagi dari Couhaib Driouech yang menutup pesta gol dengan tembakan spektakuler.
Secara keseluruhan, PSV menguasai ritme laga di babak kedua dan membiarkan Napoli tak lagi punya daya untuk bangkit.
Kemenangan ini menjadi momen penting bagi PSV: mereka akhirnya meraih poin penuh pertama di Liga Champions musim ini setelah sebelumnya belum menang. Kemenangan besar ini juga meningkatkan kepercayaan diri tim menjelang sisa laga grup.
Sebaliknya, bagi Napoli hasil ini adalah pukulan besar. Tim asuhan Antonio Conte tampak kehilangan keseimbangan dan karakter yang semula menjadi identitas mereka sebagai juara Serie A. Kapten mereka, Giovanni Di Lorenzo, secara terbuka mengakui bahwa timnya kini “kehilangan jiwa juara”.
Tren dan Statistik
Rekor pertemuan kedua klub sebelumnya memang menunjukkan keunggulan PSV atas Napoli dalam kompetisi Eropa. Namun, margin 6–2 ini di luar prediksi — mencerminkan betapa cepat momentum dapat berubah dalam laga kandang.
Pertahanan Napoli tampak rapuh, khususnya setelah kehilangan Lucca dan ketika PSV mulai menguasai bola di lini tengah.
PSV bermain agresif, cepat dalam serangan balik, dan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain secara efektif.
Ketika gol bunuh diri dan pembalikan skor terjadi, Napoli kehilangan momentum.
Kartu merah Lucca memperburuk situasi mental dan memudahkan PSV untuk menggulirkan serangan lebih leluasa.
Untuk Napoli: Konsistensi dan kedisiplinan tetap menjadi kunci, terutama di pentas Eropa.
Untuk PSV: Kemenangan ini harus diiringi dengan menjaga konsistensi, karena tekanan kompetisi akan terus meningkat.
Hasil 6–2 yang diraih PSV Eindhoven atas Napoli bukan hanya skor; ia menandai perubahan dinamis dalam sebuah laga yang awalnya tampak seimbang. Lewat pembalikan yang cepat, kartu merah yang memecah konsentrasi tim tamu, hingga dominasi penuh tuan rumah di babak kedua—semuanya bersatu menjadi salah satu momen besar di Liga Champions musim ini.
Bagi penggemar sepak bola, pertandingan ini adalah pengingat bahwa momen kecil—seperti gol bunuh diri atau kartu merah—bisa menentukan nasib laga besar. Dan bagi kedua klub, ini adalah titik pembelajaran: kemenangan spektakuler bisa menjadi batu loncatan, kekalahan telak bisa menjadi sinyal bahaya. Bagaimana mereka merespon dari sini akan sangat penting dalam perjalanan di kompetisi Eropa.
















