Media Kampung – 29 Maret 2026 | Letjen TNI Yudi Abrimantyo mengundurkan diri dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) pada 25 Maret 2026, menyatakan pertanggungjawaban atas dugaan keterlibatan oknum BAIS dalam penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS.
Pengunduran diri tersebut meninggalkan posisi Kabais kosong, menuntut pengisian segera oleh perwira yang memiliki kompetensi intelijen dan pengalaman strategis.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menegaskan proses penetapan pengganti harus melewati Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) sesuai regulasi TNI.
Dalam konferensi pers di Mabes TNI, Kapuspen menyampaikan bahwa lima perwira tinggi dengan latar belakang intelijen telah diidentifikasi sebagai kandidat utama.
Kandidat pertama adalah Mayjen Bosco Haryo Yunanto, yang saat ini memimpin satuan intelijen strategis dan dikenal memiliki jaringan luas dalam analisis ancaman eksternal.
Kandidat kedua, Mayjen Rio Firdianto, menjabat sebagai asisten intelijen Panglima TNI dan memiliki rekam jejak dalam operasi kontra intelijen serta pengelolaan data strategis.
Mayjen Dwi Prasetyo, yang memegang posisi komandan BAIS wilayah Jawa, juga disebut berpotensi karena keahliannya dalam koordinasi intelijen daerah dan dukungan logistik.
Kandidat keempat, Letnan Kolonel (sekarang Mayjen) Andi Saputra, mengelola divisi intelijen siber TNI dan telah memimpin beberapa operasi pengamanan siber nasional.
Kandidat kelima, Mayjen Sri Mulyani, memimpin Biro Intelijen Operasional di Kantor Staf Umum dan memiliki pengalaman dalam penyusunan laporan intelijen untuk pengambilan keputusan strategis.
Semua kandidat memiliki pengalaman kerja di BAIS atau unit intelijen terkait, yang menjadi kriteria utama dalam penunjukan Kabais baru.
Kapuspen menambahkan bahwa keputusan akhir akan diumumkan setelah proses evaluasi mendalam dan pertimbangan politik serta keamanan nasional.
Penggantian Kabais dipandang penting karena jabatan tersebut bertanggung jawab menyediakan data, analisis, dan rekomendasi intelijen bagi Panglima TNI serta pemerintah.
Keberlanjutan kepemimpinan intelijen strategis diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik setelah insiden penyiraman air keras yang memicu sorotan media.
Analis militer memperkirakan bahwa pemilihan kandidat yang memiliki rekam jejak transparansi dan integritas akan memperkuat koordinasi antara BAIS dan lembaga keamanan lainnya.
Hingga saat ini, TNI belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penunjukan pengganti, namun proses seleksi diperkirakan selesai dalam beberapa minggu ke depan.
Publik dan media diminta menunggu informasi resmi dari Wanjakti, sementara peran Kabais yang kosong tetap diisi sementara oleh pejabat sementara untuk menjaga kontinuitas intelijen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan