Media Kampung – 28 Maret 2026 | Setelah pesawat Air Canada yang dioperasikan oleh Jazz Aviation menabrak truk pemadam kebakaran di landasan LaGuardia, dua pilot tewas dan puluhan penumpang terluka, CEO Michael Rousseau mengeluarkan pernyataan duka dalam bahasa Inggris saja.
Rousseau mengakui bahwa ketidakmampuannya menyampaikan belasungkawa dalam bahasa Prancis mengalihkan perhatian publik dari keluarga korban, dan ia menyesalkan hal tersebut dengan kata “sangat sedih”.
Video yang diunggah di platform X menampilkan Rousseau berbahasa Inggris dengan subtitel bilingual, namun tidak memuaskan pihak yang menuntut penggunaan kedua bahasa resmi Kanada.
Parlemen Kanada, melalui Komite Bahasa Resmi, memanggil Rousseau untuk menjelaskan mengapa pesan tersebut tidak disampaikan dalam bahasa Prancis, menyoroti pelanggaran potensi Undang-Undang Bahasa Resmi.
Sejumlah politisi, termasuk Perdana Menteri dan Perdana Menteri Quebec, menyuarakan keprihatinan atas kurangnya empati dalam penyampaian pesan, dan beberapa tokoh menuntut pengunduran diri Rousseau.
Rousseau, yang tinggal di Montreal tetapi berbahasa Inggris, telah berulang kali mengaku bahwa kemampuan Prancisinya masih lemah meskipun telah mengikuti kursus selama beberapa tahun.
Air Canada menegaskan komitmen untuk meningkatkan kemampuan bahasa Prancis eksekutifnya dan berjanji terus memperbaiki layanan bilingual pada penerbangan.
Pihak penyelidikan mengungkapkan bahwa pada malam kecelakaan, petugas pengatur lalu lintas udara di LaGuardia kurang staf, yang menjadi faktor penyebab truk pemadam kebakaran diizinkan menyeberang landasan bersamaan dengan pesawat.
Rekaman tiga menit terakhir dari kokpit dan komunikasi menara menunjukkan kedua pihak mendapat izin untuk melintasi landasan, menambah tekanan pada otoritas penerbangan untuk meninjau prosedur keselamatan.
Landasan LaGuardia dibuka kembali setelah penanganan darurat selesai, namun ketegangan di antara regulator, maskapai, dan publik terus meningkat.
Sejak insiden, Air Canada menghadapi seruan pengunduran diri bagi CEO-nya serta kritik atas manajemen krisis yang dianggap kurang sensitif terhadap kebijakan bilingual Kanada.
Kasus ini menyoroti tantangan internal Air Canada dalam mematuhi Undang-Undang Bahasa Resmi serta kebutuhan mendesak perbaikan sumber daya pengatur lalu lintas udara di bandara utama Amerika Serikat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan