Media Kampung – 27 Maret 2026 | Seorang pria berusia 38 tahun asal Pekanbaru terpaksa melanjutkan perjalanan mudik ke Surabaya dengan berjalan kaki setelah dana transportasi habis di tengah arus pulang kampung.
Awalnya ia berencana naik bus antarkota, namun tiket terpaksa dibatalkan karena tidak mampu membayar biaya tambahan yang naik tajam menjelang Idul Fitri.
Keputusan berjalan ditempuh setelah menimbang jarak lebih dari 1.200 kilometer, kondisi jalan yang beragam, serta keterbatasan bantuan logistik di sepanjang rute.
Selama perjalanan ia mengandalkan suapir, warung makan, dan warga setempat untuk mendapatkan makanan, minuman, serta tempat beristirahat singkat.
“Saya tidak bisa meninggalkan ibu yang sudah lama menunggu, jadi saya pilih melanjutkan meski harus menempuh ratusan kilometer,” ujarnya dengan nada tegas.
Mudik Lebaran 2026 mencatat lonjakan penumpang mencapai jutaan orang, menambah beban biaya transportasi bagi pekerja migran dan keluarga yang berada di luar kota asal.
Di sisi lain, kisah sopir travel lintas Sumatra, Faisal (53), memperlihatkan tekanan serupa, di mana ia mengemudi nonstop enam jam demi mengantar penumpang dan menambah pendapatan pada musim libur.
“Setiap menit di jalan berarti uang, jadi saya tak bisa berhenti meski lelah,” kata Faisal, menegaskan pentingnya kerja keras bagi penghidupan sehari-hari.
Kedua cerita menyoroti tantangan finansial yang dihadapi pelaku transportasi, baik yang berjalan maupun mengemudi, selama periode mudik yang sangat padat.
kenaikan harga bahan bakar, tarif tiket, dan biaya tol mempersempit ruang manuver ekonomi bagi mereka yang harus menyeberang pulau atau provinsi.
Kondisi ini berdampak langsung pada keluarga, terutama orang tua yang menanti kedatangan anak-anak mereka di rumah setelah bertahun‑tahun terpisah.
Pemerintah daerah dan pusat telah meningkatkan jadwal kereta serta menambah armada bus, namun jaringan darat di wilayah timur masih terbatas, memaksa sebagian orang memilih alternatif lebih berat.
Setelah menempuh hampir empat minggu berjalan, pria Pekanbaru akhirnya tiba di Surabaya, disambut oleh ibunya yang menangis bahagia di depan gerbang rumah keluarga.
Reuni tersebut menjadi bukti ketangguhan pribadi serta solidaritas warga jalan yang membantu pelancong dengan memberi makanan, air, dan petunjuk arah.
Kasus ini menegaskan bahwa semangat mudik tetap kuat meski menghadapi rintangan ekonomi, dan menyoroti perlunya kebijakan transportasi yang lebih inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan