Media Kampung – 26 Maret 2026 | Gunung Semeru mengeluarkan dua letusan kuat pada Jumat pagi, masing-masing menghasilkan kolom abu setinggi kira-kira seribu meter. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera mengeluarkan peringatan zona aman di sekitar gunung.

Letusan pertama tercatat pada pukul 07.45 WIB dan berlangsung selama 24 detik, dengan amplitudo gelombang seismik mencapai 12 milimeter. Letusan kedua terjadi pada pukul 09.12 WIB, berdurasi 22 detik dan menghasilkan amplitudo 9 milimeter.

PVMBG menilai kedua letusan berada pada level II (Waspada) dan mengingatkan potensi bahaya lahar dingin bila hujan turun di daerah lereng. Masyarakat yang tinggal di lembah sungai berpotensi terkena aliran lahar harus memantau peringatan cuaca.

Petugas lapangan, Teguh Firmansyah, menyampaikan bahwa pengamatan visual kolom abu terhalang awan tebal, namun data seismik dan citra satelit memastikan ketinggian asap. “Kami terus memantau pergerakan awan abu dengan radar cuaca,” ujar Teguh.

PVPV menyarankan semua warga, pendaki, serta pengunjung wisata untuk tidak memasuki area dalam radius lima kilometer dari kawah aktif. Larangan tersebut berlaku sampai status gunung kembali turun menjadi level I (Normal).

Untuk melindungi pernapasan, pihak berwenang mengimbau penggunaan masker N95 atau setara bagi siapa pun yang berada di luar zona aman namun terkena abu. Penggunaan kacamata pelindung dan pakaian panjang juga dianjurkan.

Tim SAR dan pemadam kebakaran telah diposisikan di pos-pos strategis di sekitar lereng untuk menanggapi kemungkinan evakuasi cepat. Mereka dilengkapi dengan peralatan deteksi gas berbahaya dan kendaraan off‑road.

Sejumlah jalur pendakian utama, termasuk jalur Ranu Pane, ditutup sementara untuk menghindari risiko jatuhnya batu dan abu panas. Pintu masuk ke kawasan Taman Nasional Bromo‑Semeru juga diblokir.

Petugas keamanan mengingatkan bahwa penyebaran informasi palsu dapat menimbulkan kepanikan, sehingga masyarakat diminta mengandalkan sumber resmi. Media sosial diharapkan tidak menjadi sarana penyebaran rumor.

Sejumlah desa di kaki lereng, seperti Songgon, Tumpang, dan Ngadipuro, telah menyiapkan titik kumpul darurat serta persediaan air bersih dan makanan. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus dipertahankan.

Dalam beberapa hari terakhir, Semeru telah mencatat sembilan letusan sejak awal bulan Maret, dengan satu kali kolom abu terpantau setinggi 1.600 meter pada 9 Maret. Pola aktivitas ini menunjukkan peningkatan tekanan magma.

PVMBG menegaskan bahwa pemantauan akan berlanjut 24 jam, melibatkan jaringan seismograf, kamera termal, serta satelit penginderaan jauh. Data real‑time akan diakses publik melalui portal resmi PVMBG.

Kondisi cuaca sore hari diperkirakan cerah, namun awan tebal abu masih dapat mengganggu visibilitas di area sekitar gunung. Warga diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak.

Secara keseluruhan, pihak berwenang menekankan pentingnya kepatuhan terhadap zona larangan dan kesiapsiagaan komunitas untuk mengurangi dampak bencana. Pemerintah daerah siap memberikan bantuan darurat bila diperlukan.

Dengan langkah-langkah mitigasi yang diterapkan, diharapkan dampak letusan Semeru dapat diminimalkan sambil menunggu gunung kembali ke kondisi stabil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.