Media Kampung – 24 Maret 2026 | Senin, dua hari setelah Idul Fitri 2026, jalan‑jalan utama Jakarta tampak jauh lebih sepi dibandingkan hari kerja biasa. Keheningan ini disebabkan oleh ribuan warga yang kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.
Namun, tidak semua ruas mengalami kelonggaran; di Jalan Harsono RM dekat pintu masuk Ragunan, antrean kendaraan mencapai ratusan meter. Mobil dan sepeda motor bergerak perlahan, bahkan sebagian pengendara turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan berada di lokasi strategis untuk mengarahkan arus, membuka jalur yang tersumbat, dan mencegah kecelakaan. Kehadiran mereka membantu mengurangi risiko meski kepadatan tetap tinggi.
Jalur Lintas Selatan menunjukkan pola sebaliknya, dengan volume kendaraan yang padat karena mudik lokal dan aktivitas pasar di sepanjang jalan berliku. Irjen Rudi Setiawan menegaskan bahwa kondisi medan menurun dan banyak pemberhentian memperparah kemacetan.
Untuk mengurai hambatan, otoritas menambah personel di pos‑pos Nagreg, Limbangan, dan Gentong serta menerapkan satu‑arah sementara pada beberapa segmen. Pengemudi angkot, becak, dan kendaraan kecil lainnya diberikan kompensasi agar tidak beroperasi.
Jaringan Transjabodetabek menjadi pilihan alternatif utama; ridership naik signifikan karena banyak commuter memilih kereta dibanding mobil pribadi. Kereta beroperasi dengan frekuensi lebih tinggi, menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat bagi yang masih berada di ibu kota.
Kebijakan ganjil‑genap yang biasanya berlaku pada hari kerja ditangguhkan selama libur Lebaran. Penangguhan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan penurunan volume lalu lintas sekaligus memberi fleksibilitas bagi perjalanan penting.
Pengamat mencatat bahwa kombinasi jalan utama yang lengang dan titik‑titik macet menciptakan “rasa berbeda” pada Senin tersebut. Pola ini menegaskan dampak signifikan migrasi musiman terhadap dinamika lalu lintas kota.
Isti, seorang pengunjung berusia 32 tahun, memutuskan turun dari Jaklink dan melanjutkan ke Ragunan dengan berjalan kaki setelah menyaksikan kemacetan. Ia menyatakan bahwa berjalan kaki lebih cepat dibanding terjebak dalam kendaraan.
Seiring berjalannya H+2, diperkirakan lalu lintas akan kembali normal seiring berkurangnya kendaraan masuk dan peningkatan kendaraan yang kembali ke Jakarta. Pihak berwenang tetap memantau situasi dan siap menyesuaikan kebijakan bila diperlukan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan