Media Kampung – 19 Maret 2026 | Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa fenomena El Niño dengan intensitas tinggi dapat muncul pada musim panas 2026. Badan Nasional Oseanik dan Atmosfer (NOAA) melalui Climate Prediction Center memperkirakan peluang terjadinya El Niño mencapai 62% antara bulan Juni dan Agustus, menandakan risiko peningkatan suhu global yang signifikan.
Prediksi El Niño Tahun 2026
El Niño merupakan fase hangat dari siklus El Niño‑Southern Oscillation (ENSO) di mana suhu permukaan laut di bagian timur Samudra Pasifik tropis naik setidaknya 0,5°C di atas rata‑rata. Saat ini, wilayah tersebut masih berada dalam fase La Niña, namun suhu laut diproyeksikan akan berbalik dalam beberapa minggu ke depan. Jika suhu naik mencapai 2°C di atas rata‑rata, fenomena dapat dikategorikan sebagai super El Niño.
Menurut Paul Pastelok, meteorolog AccuWeather, kemungkinan terbentuknya super El Niño pada akhir musim badai (November) berada di kisaran 15%. Sementara itu, NOAA menilai ada sekitar sepertiga peluang El Niño kuat muncul antara Oktober dan Desember. Kedua perkiraan menegaskan bahwa intensitas akhir masih belum pasti, namun tren penguatan tidak dapat diabaikan.
Dampak Regional di Indonesia
Jika super El Niño terwujud, Indonesia berpotensi mengalami dua pola cuaca ekstrem sekaligus. Di satu sisi, musim kemarau dapat meluas dengan curah hujan yang sangat rendah, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia berpotensi mengalami curah hujan yang sangat tinggi, menimbulkan banjir bandang dan tanah longsor.
- Wilayah Sumatra dan Jawa: peningkatan suhu dan penurunan curah hujan, mengancam produksi pertanian.
- Kalimantan dan Sulawesi: potensi kebakaran hutan yang meluas.
- Papua dan Maluku: intensifikasi hujan lebat, risiko banjir.
Pemerintah daerah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diimbau memperkuat sistem peringatan dini serta menyiapkan strategi mitigasi yang terintegrasi.
Kaitan dengan Rekor Suhu Global
Super El Niño 2015‑2016 menjadi pemicu utama pencapaian rekor suhu global pada tahun 2023‑2024. Pada periode tersebut, suhu rata‑rata global melampaui 1,2°C di atas pra‑industri, menjadikan 2024 tahun terpanas yang pernah tercatat. Zeke Hausfather, pakar iklim, mengindikasikan bahwa gelombang El Niño 2026 dapat mendorong suhu global naik kembali, meski tidak dipastikan melampaui puncak 2024 karena tahun 2026 dimulai dengan fase La Niña.
Namun, Hausfather menekankan bahwa efek lag antara ENSO dan suhu permukaan bumi dapat memperpanjang pengaruh hingga tahun 2027. Jika El Niño kuat atau super berlanjut, 2027 berpotensi mencatat suhu global baru yang menembus rekor sebelumnya.
Pandangan Pakar dan Langkah Mitigasi
Para pakar sepakat bahwa fenomena El Niño tidak dapat dipisahkan dari tren pemanasan global yang lebih luas. “El Niño akan meningkatkan suhu sementara, tetapi pemanasan yang diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca tetap menjadi faktor dominan,” kata Dr. Anita Suryani, dosen iklim Universitas Indonesia.
Untuk mengurangi dampak, disarankan:
- Penguatan jaringan pemantauan iklim regional.
- Pengembangan kebijakan irigasi dan penanaman tanaman tahan kering.
- Peningkatan kapasitas penanggulangan bencana, termasuk evakuasi cepat dan penempatan posko.
- Pengurangan emisi karbon melalui transisi energi bersih.
Secara keseluruhan, prediksi super El Niño 2026 menambah ketidakpastian iklim dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat perlu bersiap secara bersinergi untuk menghadapi potensi suhu ekstrem serta dampak cuaca yang tidak menentu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan