Media Kampung – 12 Maret 2026 | Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, permintaan listrik nasional diproyeksikan melonjak tajam. Suara.com melaporkan bahwa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan kebutuhan energi akan meningkat signifikan, sekaligus menegaskan bahwa stok batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih berada dalam kondisi aman. Namun, di balik kepastian tersebut, muncul kekhawatiran tentang menipisnya cadangan batubara yang dapat mengancam stabilitas pasokan listrik selama puncak beban.

Kenaikan Permintaan Listrik Menjelang Lebaran

Tradisi menyalakan lampu, mengoperasikan pendingin ruangan, dan meningkatkan aktivitas industri selama periode lebaran selalu mendorong beban puncak pada jaringan listrik. Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menegaskan bahwa keandalan pasokan batubara menjadi instrumen utama dalam menjaga kestabilan listrik nasional pada masa kritis tersebut. “Keandalan pasokan batubara untuk PLTU merupakan instrumen operasional utama dalam menjaga kestabilan listrik nasional, termasuk saat periode beban puncak seperti perayaan Lebaran,” ujarnya.

Kendali Stok Batubara Nasional

Penetapan volume dan alokasi batubara untuk PLTU berada di bawah kewenangan tiga entitas utama: PLN, PLN Indonesia Power (PLN IP), dan PLN Nusantara Power (PLN NP). Masing‑masing pemilik pembangkit menyusun rencana operasional tahunan yang menjadi dasar perhitungan kebutuhan batubara. Setelah disusun, usulan alokasi tersebut disampaikan oleh Manajemen Pembangkitan Kantor Pusat kepada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) untuk diterbitkan sebagai penugasan Domestic Market Obligation (DMO).

Ditjen Minerba, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2025 dan Kepmen ESDM No. 399/K/MB.01/MEM.B/2023, menetapkan target dan mengawasi kepatuhan pelaksanaan DMO. PLN EPI hanya berperan sebagai penerima alokasi DMO, bukan penentu kebutuhan batubara nasional. Mekanisme ini dirancang untuk menutup celah dalam rantai pasok energi, memastikan bahwa setiap PLTU memperoleh pasokan batubara yang cukup sesuai jadwal operasional.

Strategi Cofiring Biomassa untuk Mengurangi Ketergantungan pada Batubara

Selain mengamankan cadangan batubara, PLN EPI tengah memperkuat strategi cofiring biomassa. Menurut Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, target penyerapan biomassa pada 2026 mencapai 3,65 juta ton, naik signifikan dari 2,4 juta ton pada 2025. Cofiring biomassa tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga mengurangi tekanan pada stok batubara domestik.

Untuk mencapai target tersebut, PLN EPI telah mengamankan kontrak pasokan biomassa sekitar 4,5 juta ton, melibatkan hampir 100 perusahaan dan pelaku usaha kecil menengah. Sumber biomassa meliputi limbah industri kehutanan, residu perkebunan, serta bahan baku dari sektor agrikultur. Fasilitas pengolahan biomassa yang dibangun di Ciamis dan Tasikmalaya pada 2025 berfungsi sebagai hub pengumpulan dan pengolahan sebelum didistribusikan ke PLTU terdekat.

Rencana jangka panjang mencakup pembangunan sekitar 20 fasilitas hub‑spoke di berbagai wilayah, masing‑masing melayani dua hingga tiga pembangkit listrik. Model ini diharapkan mengoptimalkan logistik, mengurangi biaya transportasi, dan memastikan pasokan biomassa tetap stabil selama periode beban puncak.

Tantangan dan Prospek Ke depan

  • Ketersediaan Batubara: Meskipun saat ini stok batubara dinyatakan aman, peningkatan konsumsi listrik yang tidak terduga dapat mempercepat penurunan cadangan, terutama jika DMO tidak dapat dipenuhi secara penuh.
  • Implementasi Cofiring: Keberhasilan cofiring biomassa sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas biomassa, dan koordinasi antara pemasok serta operator PLTU.
  • Kebijakan Pemerintah: Perubahan regulasi terkait energi terbarukan dan target dekarbonisasi dapat mempengaruhi alokasi DMO dan prioritas penggunaan batubara versus biomassa.
  • Faktor Lingkungan: Peningkatan penggunaan biomassa harus diimbangi dengan pengelolaan limbah dan mitigasi dampak lingkungan agar tidak menimbulkan konflik sosial.

Secara keseluruhan, upaya menjaga keamanan pasokan batubara sekaligus memperluas peran biomassa melalui cofiring menunjukkan pendekatan ganda yang diambil oleh PLN EPI. Jika dijalankan secara terintegrasi, strategi ini dapat mengurangi risiko kekurangan energi selama lonjakan konsumsi Lebaran, sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi nasional.

Namun, keberhasilan tergantung pada koordinasi lintas lembaga, kepatuhan DMO, dan kelancaran rantai pasok biomassa. Pemerintah, industri, dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan bahwa stok batubara tidak menjadi bottleneck dan bahwa biomassa dapat menjadi substitusi yang handal, menjamin pasokan listrik nasional tetap stabil dan berkelanjutan.