Bibit siklon tropis selatan Indonesia masih menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) seiring dengan penguatan monsun Asia yang memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Kondisi ini menandakan potensi hujan lebat hingga ekstrem belum berakhir dalam waktu dekat.

BMKG mencatat hujan dengan intensitas tinggi terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan tercatat mencapai 83,8 milimeter per hari di Nusa Tenggara Barat, 70,4 milimeter di Maluku, 63,4 milimeter di Sulawesi Selatan, 61,5 milimeter di Bali, serta lebih dari 50 milimeter di Banten, Jawa Barat, dan Sulawesi Barat. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor regional, terutama keberadaan sirkulasi siklonik dan menguatnya monsun dingin Asia.

Dua bibit siklon tropis, yakni 91S dan 92P, terpantau aktif di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria. Keberadaan sistem tersebut memperkuat daerah konvergensi berskala luas yang mencakup Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian selatan hingga Papua Selatan. Pada saat bersamaan, monsun Asia membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan menuju Indonesia melalui Selat Karimata dan diperkuat oleh seruakan udara dingin dari wilayah Siberia yang melintasi ekuator hingga Pulau Jawa.

BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global hingga lokal masih berpengaruh signifikan dalam sepekan ke depan. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation terpantau berada pada fase negatif yang mengarah pada kondisi La Niña lemah. Situasi ini berpotensi meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah timur Indonesia.

Bibit Siklon Tropis 91S terpantau berada di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan minimum sekitar 1004 hPa dan kecepatan angin maksimum 30 knot. Sistem ini bergerak ke arah selatan hingga tenggara dan dalam 48 hingga 72 jam ke depan memiliki peluang tinggi berkembang menjadi siklon tropis. Dampaknya berupa peningkatan kecepatan angin di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta perairan utara Madura hingga Flores.

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92P yang berada di Teluk Carpentaria tercatat memiliki tekanan minimum 1008 hPa dengan kecepatan angin sekitar 15 knot. Potensi berkembangnya sistem ini menjadi siklon tropis dalam beberapa hari ke depan dinilai masih rendah, namun tetap berpotensi meningkatkan angin kencang di Laut Banda, Laut Arafura, Maluku bagian selatan dan tenggara, hingga Papua Selatan.

BMKG juga memantau penguatan Cross Equatorial Northerly Surge yang memungkinkan massa udara lembap melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia dengan lebih intens. Kondisi ini berkontribusi terhadap peningkatan kejadian cuaca ekstrem, khususnya di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden–Julian Oscillation, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin turut memperkuat pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah. Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai kilat dan angin kencang.

Untuk periode Kamis (23/01/2026) hingga Sabtu (25/01/2026), BMKG memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara hujan ekstrem berpotensi terjadi di Banten dan DKI Jakarta. Angin kencang juga berpeluang melanda Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bali, serta wilayah Nusa Tenggara.

Memasuki periode Senin (26/01/2026) hingga Kamis (29/01/2026), hujan sedang hingga lebat diperkirakan masih meluas di sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Potensi angin kencang diperkirakan tetap terjadi di Banten, Bali, serta wilayah Nusa Tenggara.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, genangan, dan tanah longsor perlu diantisipasi dengan langkah mitigasi sejak dini.

Masyarakat juga disarankan memantau informasi cuaca resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal media sosial resmi. Untuk perjalanan darat, laut, dan udara, BMKG menyediakan layanan Digital Weather for Traffic yang dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG dan laman resmi BMKG guna mendukung aktivitas yang lebih aman.