KUTAI KARTANEGARA — Setiap pagi, Mira Ambar Wati (36) memulai hari dengan rutinitas yang nyaris tak pernah berubah. Dari rumahnya di Gang Nirwana, Kelurahan Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ia berangkat bekerja demi memastikan keluarganya tetap bertahan.

Mira bekerja serabutan di sebuah warung bakso. Pekerjaannya meliputi mencuci piring, menyiapkan minuman, membantu dapur, hingga mengerjakan berbagai tugas lain yang dibutuhkan. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh upah Rp 60.000 per hari, termasuk jatah makan.

Penghasilan tersebut menjadi tumpuan hidup bagi tiga anaknya, ibunya yang berusia 63 tahun, serta kakak sulungnya yang menderita gangguan mental dan sakit menahun. “Kalau saya tidak kerja, kami tidak makan,” ujar Mira saat ditemui, Selasa (20/1/2025).

Mira sempat menyewa rumah sendiri. Namun setelah ayahnya meninggal dunia, ia memutuskan kembali ke rumah lama peninggalan keluarga demi merawat sang ibu. Rumah tersebut berada di gang sempit dan berdempetan dengan bangunan lain. “Tidak mungkin saya meninggalkan mama,” kata Mira.

Selain merawat ibunya, Mira juga mengurus kakaknya, Juman, yang mengalami gangguan mental sejak kecil. Kondisi kakaknya semakin berat setelah menderita hernia yang membatasi geraknya. Hingga kini, keluarga belum mampu membawa Juman menjalani operasi karena keterbatasan biaya.

Dalam keseharian, Juman kerap berada di luar rumah dan mengumpulkan barang-barang bekas. Meski demikian, Mira menyebut kakaknya masih memiliki kepedulian terhadap keluarga. “Kadang makanannya tidak dimakan, malah dibawakan ke mama,” ujarnya.

Beban Mira semakin bertambah karena harus membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak sulungnya baru lulus SMA dan mulai bekerja. Anak kedua masih duduk di bangku SMP, sementara anak bungsunya kelas 3 sekolah dasar. Bantuan pendidikan kerap datang, meski tidak selalu rutin.

Dengan penghasilan Rp 60.000 sehari, Mira harus cermat mengatur pengeluaran untuk kebutuhan makan, sekolah, dan ongkos harian. Ia mengaku pernah bekerja hingga malam, namun memilih jam kerja lebih singkat agar bisa mengurus keluarga di rumah.

Suami Mira juga bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu, berkisar Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per hari. Karena itu, Mira tetap menjadi tulang punggung utama keluarga.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab yang berat, Mira memilih bertahan. Baginya, bekerja dan memastikan keluarga tetap makan adalah prioritas utama. “Motivasi saya keluarga. Anak-anak, mama, kakak,” ucapnya.

Di Gang Nirwana, Mira Ambar Wati terus menjalani hari demi hari. Di balik penghasilan Rp 60.000 sehari, tersimpan kisah keteguhan seorang perempuan yang menjaga keluarganya tetap bertahan hidup.