EMBRANA — Arus balik libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) mulai menunjukkan peningkatan signifikan di pintu keluar Pulau Bali, khususnya melalui Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur.

Berdasarkan data PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) pada Kamis (1/1/2026) atau H+7 Natal, tercatat 30.600 orang penumpang dan 7.190 unit kendaraan telah menyeberang dari Bali menuju Jawa melalui lintasan Gilimanuk–Ketapang.

ASDP: Arus Balik Mulai Terbentuk

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, menyampaikan bahwa pergerakan penumpang dan kendaraan dari Bali ke Jawa mulai terlihat seiring berakhirnya rangkaian perayaan malam pergantian tahun.

“Pergerakan arus balik mulai terlihat. Namun hingga saat ini seluruh layanan penyeberangan masih berjalan dengan aman, lancar, dan terukur. Kami terus menjaga kesiapsiagaan operasional untuk mengantisipasi potensi peningkatan arus balik,” ujar Heru Widodo dalam keterangannya.

Ia menambahkan, awal Januari tidak hanya diwarnai kepulangan wisatawan, tetapi juga meningkatnya kembali arus angkutan logistik menuju Pulau Jawa guna mendukung aktivitas ekonomi pascalibur panjang.

Akumulasi Penumpang Turun, Kendaraan Naik

Secara kumulatif, data Posko Nataru mencatat sejak H-10 hingga H+7 Natal, total penumpang yang menyeberang dari Bali ke Jawa mencapai 427.910 orang. Angka tersebut mengalami penurunan 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, sektor kendaraan justru menunjukkan tren peningkatan. Tercatat 121.364 unit kendaraan meninggalkan Bali, naik 1,8 persen dibandingkan periode Nataru tahun lalu.

Kapasitas Masih Longgar, ASDP Imbau Gunakan Tiket Online

Sementara itu, Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyebutkan bahwa tingkat pemanfaatan kapasitas angkut pada lintasan Bali–Jawa saat ini masih berada di kisaran 21,80 persen. Kondisi tersebut menandakan kapasitas kapal masih relatif longgar sehingga potensi penumpukan kendaraan di pelabuhan dapat diminimalkan.

Windy kembali mengingatkan pengguna jasa agar disiplin menerapkan sistem pertiketan digital dan merencanakan perjalanan lebih awal melalui aplikasi Ferizy.

“Saat ini tidak ada lagi penjualan tiket langsung di pelabuhan. Pengguna jasa wajib sudah memiliki tiket sebelum tiba di pelabuhan dan datang sesuai jadwal keberangkatan,” tegas Windy.

Ia juga mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem di perairan Selat Bali demi keselamatan pelayaran. (selsy).