Kerusakan hutan di kawasan Batang Toru kembali menjadi sorotan setelah banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir besar yang terjadi pekan ini menewaskan banyak warga dan memaksa puluhan ribu lainnya mengungsi. Di tengah duka akibat bencana, perhatian publik mengarah pada kondisi hutan Batang Toru yang selama ini dijuluki “paru-paru” Sumatera, tetapi kini kian habis terbabat.

Kawasan Batang Toru yang berada di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara disebut sebagai salah satu titik kerusakan terparah. Di daerah inilah banjir dan longsor banyak terjadi. Hutan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai penyangga ekosistem Bukit Barisan dan pusat Daerah Aliran Sungai (DAS), tetapi juga merupakan rumah terakhir orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia.

Pada Minggu (30/11/2025), Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, Rianda Purba, menyampaikan bahwa sejumlah daerah di sekitar Batang Toru seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga mengalami dampak paling parah. Ia menjelaskan bahwa tutupan hutan Harangan Tapanuli tersebar 66,7 persen di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah. Batang Toru disebut memegang peranan krusial karena menjadi sumber air, pencegah erosi, serta penyangga aliran sungai hingga wilayah hilir.

Rianda menuturkan bahwa setiap banjir besar yang terjadi selalu membawa kayu-kayu berukuran besar dari wilayah hulu. Citra satelit juga memperlihatkan area gundul di sekitar lokasi. Kondisi tersebut dinilai sebagai bukti bahwa pembukaan hutan yang dilakukan perusahaan-perusahaan di sekitar Batang Toru semakin memperparah kerusakan ekosistem.

Dalam kajian risiko bencana Provinsi Sumatera Utara 2022–2026, kawasan ekosistem Batang Toru telah masuk kategori berisiko tinggi terhadap banjir dan longsor. Selain penting untuk lingkungan, wilayah ini juga menjadi habitat berbagai satwa dilindungi seperti harimau sumatera, tapir, dan terutama orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Orangutan Tapanuli pertama kali diumumkan sebagai spesies baru pada 3 November 2017 melalui publikasi ilmiah di jurnal Current Biology dan siaran resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penemuan ini menempatkan mereka sebagai kera besar paling langka di dunia dengan status Critically Endangered menurut IUCN. Dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) 2019–2029, populasinya diperkirakan hanya tersisa 500 hingga 760 ekor.

Namun, laporan CNBC menyebut habitat mereka terus menyusut akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan area industri. Harapan bahwa status spesies baru akan meningkatkan perlindungan justru dinilai belum terwujud. Organisasi lingkungan internasional Mighty Earth menyampaikan bahwa berbagai ancaman yang dihadapi orangutan Tapanuli sejak 2017 masih belum berubah, mulai dari deforestasi ilegal hingga perdagangan bayi orangutan.

Selain tekanan dari aktivitas ilegal, proyek besar seperti pembangunan bendungan dan pertambangan emas di Batang Toru juga turut menggerus habitat satwa tersebut. Secara fisik, orangutan Tapanuli memiliki bulu lebih lebat dan keriting dibandingkan kerabat dekatnya, orangutan Sumatera. Mereka juga memiliki kumis tebal dan bantalan pipi yang lebih datar.

Menurut perkiraan IUCN, populasi orangutan Tapanuli dapat menyusut hingga 83 persen dalam tiga generasi apabila upaya konservasi tidak diperkuat. Di tengah bencana banjir besar yang kini melanda Sumatera, nasib mereka kembali menjadi tanda tanya besar—bersamaan dengan masa depan ekosistem Batang Toru yang terus terdesak oleh tekanan manusia. (selsy).