Media Kampung – 23 Maret 2026 | Jenang Ayu Niten dan Bu Sono kini disebut sebagai oleh-oleh paling dicari dari Klaten menjelang mudik Lebaran. Kedua produk menonjol karena rasa otentik dan daya simpan yang cocok untuk perjalanan jauh.
Jenang Ayu Niten diproduksi dengan resep turun‑turun generasi yang menggabungkan beras ketan, gula merah, dan rempah pilihan. Proses pembuatannya melibatkan pengukusan perlahan sehingga teksturnya legit dan kenyal.
Bu Sono, yang berbasis di kawasan perbatasan Klaten‑Sukoharjo, menawarkan kue tradisional berlapis kelapa dan gula kelapa alami. Kelezatan kue tersebut terjaga berbulan‑bulan bila disimpan dalam kemasan vakum.
Kedua oleh-oleh ini telah masuk dalam rekomendasi 15 camilan khas Jawa Timur yang wajib dibawa saat mudik, sebagaimana dilaporkan media regional. Penempatan mereka menunjukkan popularitas kuliner lintas provinsi.
Penjual lokal menegaskan bahwa keunggulan Jenang Ayu Niten terletak pada rasa manis alami yang tidak dipenuhi pemanis buatan. Hal ini membuatnya diminati konsumen yang mengutamakan bahan alami.
Bu Sono menambahkan bahwa penggunaan kelapa segar dari perkebunan sekitar memberikan aroma khas yang sulit ditiru oleh produk industri. Konsumen melaporkan bahwa aroma tersebut mengingatkan pada suasana kampung halaman.
Para pembeli mudik biasanya memilih produk yang ringan, tahan lama, dan mudah dibawa dalam tas. Jenang dan kue Bu Sono memenuhi tiga kriteria tersebut, menjadikannya pilihan praktis.
Harga kedua produk berada pada kisaran menengah, memungkinkan keluarga dengan berbagai tingkat pengeluaran untuk membelinya. Jenang Ayu Niten dijual mulai Rp 30.000 per bungkus, sementara kue Bu Sono sekitar Rp 25.000 per kemasan.
Penjual di pasar tradisional Klaten melaporkan peningkatan penjualan sebesar 40 persen selama musim mudik tahun ini. Lonjakan tersebut dikaitkan dengan promosi digital melalui media sosial dan ulasan kuliner.
Sejumlah influencer kuliner menilai bahwa rasa Jenang Ayu Niten mengingatkan pada kenikmatan makanan tradisional Jawa Tengah yang otentik. Mereka menambahkan bahwa tekstur kenyal menambah nilai sensori saat dikonsumsi.
Sementara itu, kritikus makanan menyoroti bahwa kue Bu Sono memiliki keseimbangan antara manis dan gurih yang jarang ditemui pada camilan kemasan massal. Kelembutan lapisan luar dan krim kelapa di dalam menjadi nilai jual utama.
Pemerintah Kabupaten Klaten mendukung promosi produk lokal melalui program “Oleh‑Oleh Khas Klaten”. Program tersebut menyediakan stand khusus di terminal bus dan stasiun kereta untuk memperluas distribusi.
Dalam survei yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata, 68 persen responden menyatakan mereka akan membeli Jenang Ayu Niten sebagai hadiah bagi kerabat. Persentase serupa tercatat untuk kue Bu Sono, menegaskan posisi keduanya sebagai pilihan utama.
Ahli ekonomi lokal menyebutkan bahwa peningkatan penjualan oleh‑oleh dapat meningkatkan pendapatan UMKM di wilayah tersebut. Mereka menambahkan bahwa konsumsi produk tradisional memperkuat identitas budaya kuliner daerah.
Meskipun terdapat persaingan ketat dengan produk sejenis dari Surabaya, Malang, dan Kediri, Jenang Ayu Niten dan Bu Sono tetap mempertahankan pangsa pasar berkat kualitas yang konsisten. Kepercayaan konsumen terbentuk lewat pengalaman rasa yang dapat dipertahankan.
Pelancong yang kembali ke kota asal melaporkan bahwa mereka merasa lebih dekat dengan kampung halaman setelah menyajikan Jenang atau kue Bu Sono kepada keluarga. Sensasi rasa yang familiar menjadi jembatan emosional.
Dengan tren belanja daring yang terus berkembang, kedua produsen kini membuka toko online resmi untuk melayani pembeli di luar Jawa Tengah. Layanan pengiriman cepat memastikan produk tetap segar sampai tujuan.
Menjelang Lebaran, permintaan terhadap Jenang Ayu Niten dan Bu Sono diperkirakan akan terus meningkat, memperkuat posisi Klaten sebagai destinasi kuliner tradisional. Pengunjung dan penduduk lokal diharapkan terus mendukung produk lokal untuk mempertahankan warisan rasa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan