Media Kampung – 17 Maret 2026 | Es pisang ijo telah menjadi menu takjil yang tak lekang oleh waktu, terutama saat bulan Ramadan. Kelezatan perpaduan pisang, adonan hijau, serta sirup merah menarik perhatian banyak orang, namun di balik rasa manisnya tersembunyi cerita sejarah dan nilai budaya yang kuat.

Asal‑Usul dan Jejak Sejarah

Hidangan ini berasal dari kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan telah dikenal sejak masa kerajaan Bugis‑Makassar. Pada era tersebut, es pisang ijo disajikan sebagai hidangan istimewa bagi bangsawan dan sebagai simbol penghormatan kepada tamu yang datang. Tradisi tersebut tetap terjaga hingga kini, dan es pisang ijo kini dapat ditemukan di hampir semua daerah di Indonesia, meskipun tetap mempertahankan ciri khasnya yang berasal dari Makassar.

Filosofi Warna Hijau

Warna hijau pada lapisan adonan bukan sekadar estetika. Dalam budaya Bugis‑Makassar, hijau melambangkan kesuburan, keteduhan, dan ketenangan. Selain itu, hijau juga dihubungkan dengan nilai malabiri, yaitu sifat santun dan anggun. Dengan menambahkan warna hijau, pembuat es pisang ijo sekaligus menyisipkan doa dan harapan baik bagi yang memakannya.

Pemilihan Pisang Raja: Alasan dan Simbolisme

Pisang yang digunakan dalam es pisang ijo biasanya adalah pisang raja yang sudah matang sempurna. Pisang raja memiliki daging buah yang padat, tidak mudah hancur saat dikukus, serta rasa manis yang legit. Keunggulan tekstur ini menjamin adonan tetap menyatu tanpa pecah ketika dibungkus. Lebih dari sekadar kualitas rasa, pisang raja juga dianggap simbol kemakmuran dan kesejahteraan, sehingga menambah nilai simbolis pada hidangan.

Berbagai jenis pisang lain tersedia di Indonesia, namun tidak semua cocok untuk es pisang ijo. Berikut ringkasan singkat mengenai tujuh varietas utama dan karakteristiknya:

  • Pisang ambon – ukuran sedang‑besar, kulit kuning cerah, rasa manis lembut.
  • Pisang cavendish – panjang, kulit kuning mulus, tekstur lembut, cocok sebagai buah meja.
  • Pisang raja – kulit kuning dengan bintik cokelat, daging padat, rasa manis kuat (pilihan utama).
  • Pisang kepok – pendek, daging padat, cocok untuk olahan panas.
  • Pisang tanduk – sangat panjang, daging keras, lebih cocok diolah.
  • Pisang uli – kecil, manis, sering dipakai sebagai camilan.
  • Pisang barangan – ukuran sedang, rasa khas, dipakai dalam kolak.

Pilihan pisang raja dalam es pisang ijo tidak kebetulan; teksturnya mendukung proses pengukusan dan pembungkus, sementara rasa manisnya menyeimbangkan keasaman sirup merah.

Peran dalam Ramadan dan Penyajian Modern

Selama Ramadan, es pisang ijo menjadi menu takjil favorit karena memberikan kombinasi energi cepat dari gula dan hidrasi dari es. Penyajiannya biasanya dimulai dengan pisang yang dibalut adonan hijau, dilengkapi bubur sumsum yang gurih, kemudian ditaburi sirup merah serta es serut atau es batu. Warna hijau biasanya diperoleh dari ekstrak pandan alami, yang tidak hanya memberi warna tetapi juga aroma harum khas.

Di era modern, variasi penyajian mulai muncul, termasuk penambahan topping seperti kacang merah, kelapa parut, atau es krim. Meskipun demikian, prinsip dasar – pisang raja, adonan hijau, sumsum, dan sirup merah – tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian rasa dan makna budaya.

Es pisang ijo tidak hanya sekadar dessert; ia merupakan warisan budaya yang menyatukan nilai sejarah, filosofi warna, dan pilihan bahan yang cermat. Keberadaannya di meja buka puasa menjadi pengingat akan tradisi Makassar yang terus hidup dalam setiap suapan.

Dengan memahami latar belakangnya, konsumen dapat menghargai lebih dari sekadar rasa manis. Es pisang ijo adalah contoh kuliner yang menggabungkan cita rasa, simbolisme, dan sejarah dalam satu mangkuk.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.