Media Kampung – 17 Maret 2026 | Jakarta, 17 Maret 2026 – Polda Metro Jaya mengungkap rute pergerakan empat tersangka yang diduga melakukan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada 12 Maret lalu. Hasil penyelidikan berbasis rekaman CCTV menunjukkan bahwa para pelaku pertama kali berkumpul di depan Stasiun Gambir sebelum menyusuri beberapa titik strategis di Jakarta, kemudian terpecah arah ke wilayah Jakarta Selatan, Pancoran, dan Bogor.

Rute Awal: Dari Jakarta Selatan ke Stasiun Gambir

Menurut Kombes Iman Imanuddin, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, empat tersangka datang dari arah Jakarta Selatan dan tiba di area Stasiun Gambir pada sore hari 12 Maret 2026. CCTV di sekitar stasiun merekam mereka menunggu di trotoar depan stasiun sebelum melanjutkan perjalanan ke Jalan Medan Merdeka Timur.

Pergerakan Melalui Pusat Kota

Dari Stasiun Gambir, para pelaku menelusuri Jalan Ir. H. Juanda dan beralih ke Jalan Medan Merdeka Barat. Rekaman selanjutnya memperlihatkan mereka mengelilingi kawasan Monumen Nasional (Monas) dan melanjutkan ke Tugu Tani. Sesuai dengan data video, mereka kemudian singgah di sebuah SPBU di Jalan Cikini untuk mengisi bahan bakar, sambil menunggu Andrie Yunus di depan KFC Cikini.

Setelah Andrie selesai mengisi bahan bakar, ia melewati Jalan Borobudur, berbelok ke Jalan Proklamasi, lalu menempuh Jalan Pegangsaan Timur menuju SPBU. Pada saat itulah para tersangka mengikuti pergerakannya dan menyiapkan aksi penyiraman.

Lokasi Kejadian dan Pelarian

Insiden terjadi di persimpangan Jalan Salemba I dan Jalan Talang sekitar pukul 23.37 WIB. Empat tersangka, yang menggunakan dua sepeda motor, menunggu korban di depan restoran cepat saji dan kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras saat Andrie melintas. Wadah berisi cairan dan helm salah satu pelaku ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.

Setelah aksi, dua motor terpisah arah. Satu kelompok (OTK 1 dan 2) melaju melawan arus menuju Jalan Salemba Raya, Senen, Kramat Raya, Tugu Tani, hingga Stasiun Gondangdia, kemudian berbelok ke Jakarta Selatan. Kelompok lainnya (OTK 3 dan 4) tetap lurus ke Jalan Pramuka Sari II, Matraman, Jatinegara, dan akhirnya ke Jalan Otto Iskandardinata di Jakarta Timur. Analisis digital pada perangkat komunikasi menunjukkan satu pelaku mengganti pakaian dan beralih ke wilayah Kalibata, Ragunan, serta Bogor.

Upaya Penyelidikan dan Tindakan Lanjutan

Polisi telah mengumpulkan lebih dari 2.610 klip video, total durasi mencapai 10.320 menit, yang merekam pergerakan para tersangka di 86 titik CCTV. Data tersebut diproses secara digital untuk melacak pola pergerakan dan mengidentifikasi kendaraan yang terlibat.

Polda Metro Jaya menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung, termasuk pemeriksaan terhadap nomor polisi motor yang terlibat serta pencarian barang bukti tambahan. Kombes Iman menegaskan bahwa pihak kepolisian akan terus mengejar semua pelaku hingga tuntas, mengingat aksi tersebut mengancam keselamatan aktivis dan menimbulkan kekhawatiran publik.

Kasus ini menambah daftar insiden kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia di Indonesia. Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat diharapkan meningkatkan perlindungan bagi aktivis yang sering menjadi sasaran aksi intimidasi.

Dengan mengungkap jejak pergerakan para tersangka, polisi berupaya memberi sinyal bahwa tindakan kekerasan tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi hukum. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan melaporkan segala indikasi ancaman serupa kepada aparat keamanan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.