Media Kampung – 18 Maret 2026 | Pertumbuhan layanan pinjaman online (pinjol) dalam beberapa tahun terakhir telah mempermudah akses kredit bagi banyak orang. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan risiko kecanduan, terutama pada individu yang rentan secara psikologis. Pola perilaku yang muncul menyerupai kecanduan judi online, dengan mekanisme psikologis yang serupa seperti pencarian sensasi, impulsivitas, dan kebutuhan akan kepuasan instan.

Gejala Kecanduan Pinjol

Beberapa tanda yang dapat mengindikasikan seseorang mengalami kecanduan pinjol meliputi:

  • Sering mengajukan pinjaman meski belum mampu melunasinya.
  • Merasa cemas atau gelisah ketika tidak dapat mengakses aplikasi pinjol.
  • Mengabaikan kebutuhan dasar seperti makanan atau kesehatan demi membayar cicilan.
  • Menggunakan alasan emosional atau sosial untuk membenarkan pengajuan pinjaman berulang.
  • Mengalami konflik dalam hubungan pribadi karena tekanan finansial yang terus‑menerus.

Gejala tersebut dapat berkembang perlahan, namun jika tidak ditangani, dapat berujung pada kerusakan finansial dan kesehatan mental.

Mekanisme Psikologis di Balik Kecanduan

Studi mengenai kecanduan judi online mengungkapkan bahwa sistem reward otak terpicu oleh harapan kemenangan cepat. Pada pinjol, harapan memperoleh dana secara instan menciptakan sensasi yang sama, memicu dopamin dan memperkuat perilaku pengajuan kembali. Selain itu, individu dengan kecenderungan impulsif atau gangguan kepribadian ambang (borderline) cenderanya lebih rentan karena mereka sering mencari kepuasan emosional sesaat dan memiliki ketakutan kuat akan penolakan atau kegagalan.

Faktor lain yang memperparah keadaan adalah stres ekonomi yang meningkatkan rasa tidak berdaya. Ketika seseorang merasa terjebak dalam lingkaran utang, otak cenderung mencari pelarian cepat, sehingga memperkuat pola pengajuan pinjaman yang berulang.

Pendekatan Psikologis untuk Pemulihan

Penanganan kecanduan pinjol memerlukan intervensi yang menggabungkan terapi kognitif, pengelolaan emosi, dan pendidikan finansial. Berikut langkah‑langkah yang dapat diterapkan:

  • Terapi Kognitif‑Perilaku (CBT): Membantu individu mengenali pola pikir distorsi yang memicu pengajuan pinjaman berlebih dan menggantinya dengan strategi berpikir yang lebih realistis.
  • Pelatihan Pengendalian Impuls: Teknik mindfulness dan latihan pernapasan dapat menurunkan reaktivitas emosional dan meningkatkan kemampuan menunda kepuasan.
  • Terapi Emosional Dialektik (Dialectical Behavior Therapy – DBT): Khusus untuk mereka yang memiliki ciri‑ciri borderline, DBT fokus pada regulasi emosi, toleransi stres, dan memperbaiki hubungan interpersonal.
  • Dukungan Sosial: Bergabung dalam grup pendukung atau konseling keluarga dapat mengurangi rasa isolasi dan memberikan akuntabilitas dalam mengelola keuangan.
  • Edukasi Keuangan: Memahami bunga, tenor, dan konsekuensi gagal bayar membantu menciptakan keputusan finansial yang lebih sadar.

Selain terapi, penting bagi penyedia layanan pinjol untuk menerapkan kebijakan yang bertanggung jawab, seperti batas maksimum pinjaman, notifikasi risiko, dan mekanisme jeda penggunaan aplikasi.

Dengan menggabungkan pendekatan psikologis dan edukasi keuangan, individu yang terjebak dalam siklus pinjaman online dapat memulihkan kontrol atas perilaku mereka, mengurangi beban emosional, dan memperbaiki stabilitas finansial.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.