Media Kampung – 11 Maret 2026 | Dinas Kesehatan Kota Bandung meningkatkan upaya pencegahan campak dengan melibatkan tokoh agama dan organisasi masyarakat. Langkah ini bertujuan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya imunisasi campak rubella di tengah peningkatan kasus di awal tahun 2026.
Koordinator bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dadan Mulyana Kosasih, menekankan peran tokoh agama dalam memberikan informasi yang akurat kepada warga, khususnya bagi keluarga yang masih ragu terhadap vaksin. Kolaborasi melibatkan Fatayat NU, Aisyiyah, dan PERSISTRI, serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.
Data Dinkes menunjukkan tren peningkatan kasus: pada Januari‑Februari 2026 tercatat 194 kasus suspek, dengan 28 kasus terkonfirmasi positif. Tahun sebelumnya, 2025, tercatat 559 kasus suspek dan 59 kasus positif. Meskipun angka naik, belum ada wilayah yang dinyatakan Kejadian Luar Biasa karena tidak terpenuhi kriteria epidemiologis.
| Tahun | Kasus Suspek | Kasus Positif |
|---|---|---|
| 2025 | 559 | 59 |
| 2026 (Jan‑Feb) | 194 | 28 |
Kendala utama masih berupa keraguan orang tua yang dipengaruhi hoaks media sosial, kekhawatiran akan kejadian ikutan pasca imunisasi, serta kekhawatiran tentang penyuntikan ganda. Padahal layanan imunisasi tersedia luas di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta, dengan pasokan vaksin yang mencukupi.
Untuk menjangkau anak yang belum terimunisasi, Dinkes memperkuat layanan rutin di puskesmas dan posyandu, serta menerapkan “defaulter tracking”. Program kejar atau sweeping terus digalakkan, termasuk kegiatan jemput bola ke sekolah dan posyandu.
Target Dinkes Bandung tahun 2026 adalah mencapai cakupan imunisasi campak rubella sebesar 95 % secara merata di seluruh wilayah. Dadan berharap keterlibatan tokoh agama dan masyarakat dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin, sehingga anak‑anak Bandung terlindungi dari bahaya campak.


Tinggalkan Balasan