Campak kerap dianggap sebagai penyakit ringan pada anak karena hanya ditandai demam dan ruam. Padahal, infeksi ini dapat berujung fatal karena menyerang organ vital serta melemahkan sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), menjelaskan bahwa sebagian besar kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasi serius. Menurutnya, sekitar 86 persen kasus kematian terjadi akibat pneumonia atau infeksi paru berat.

Serang Organ Vital

Selain pneumonia, campak juga dapat memicu diare berat yang menyebabkan dehidrasi hingga berujung fatal. Infeksi ini bahkan bisa menyerang berbagai organ lain, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah.

Karena komplikasinya dapat berkembang cepat, campak tidak bisa lagi dipandang sebagai penyakit biasa.

Melemahkan Sistem Imun

Campak juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh melalui kondisi yang disebut immune amnesia. Kondisi ini membuat tubuh kehilangan sebagian memori imun terhadap penyakit yang sebelumnya pernah dilawan.

Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terkena infeksi lain setelah sembuh dari campak. Penurunan daya tahan tubuh ini tidak pulih secara instan dan dalam beberapa kasus dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Risiko Serius pada Otak

Bahaya campak dapat meningkat ketika virus menyerang otak. Pada fase awal, infeksi dapat menyebabkan radang otak (ensefalitis) yang muncul dalam minggu pertama setelah terinfeksi dan memiliki risiko kematian tinggi.

Selain itu, terdapat komplikasi bernama Measles Inclusion Body Encephalitis (MIBE) yang umumnya terjadi pada anak dengan sistem imun lemah dan memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Komplikasi jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE). Kondisi ini bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

Gejala awal SSPE biasanya berupa penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar menurun, gangguan gerakan, hingga kejang. Penyakit ini bersifat progresif dan hampir selalu berujung pada kematian dalam satu hingga tiga tahun setelah gejala muncul.

Anak yang Lebih Rentan

Risiko komplikasi berat lebih tinggi pada anak dengan gizi buruk, belum mendapatkan imunisasi lengkap, atau memiliki penyakit penyerta. Pada kelompok ini, sistem kekebalan tubuh cenderung lebih lemah sehingga sulit melawan infeksi.

Melihat berbagai risiko tersebut, campak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan. Pencegahan melalui imunisasi lengkap serta pemenuhan gizi yang baik menjadi langkah utama untuk melindungi anak dari komplikasi yang mengancam jiwa. (SY)