Gejala diabetes melitus perlu dikenali sejak dini karena dapat berkembang menjadi komplikasi serius bila kadar gula darah tidak terkontrol. Dokter spesialis penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Wirawan Hambali, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan tanda-tanda klasik penyakit ini serta risiko komplikasinya dalam jangka pendek maupun panjang.

Dalam temu media di Jakarta, Rabu (26/02/2026), Wirawan memaparkan bahwa gejala klasik diabetes dikenal dengan istilah 4P. Empat gejala tersebut meliputi penurunan berat badan, rasa lapar berlebihan (polifagia), sering buang air kecil (poliuria), dan mudah merasa haus (polidipsia).

Menurut dia, penurunan berat badan secara drastis dapat terjadi meski penderita tetap banyak makan. Kondisi ini disebabkan gula tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh akibat kekurangan insulin, sehingga sel kekurangan energi. Tubuh kemudian memecah cadangan energi lain, termasuk lemak dan otot, yang berujung pada penurunan berat badan.

Ia menjelaskan, rasa lapar berlebihan muncul karena sel tubuh tidak mendapatkan asupan energi yang cukup dari glukosa. Akibatnya, penderita terdorong untuk makan lebih sering.

Gejala lain yang umum adalah sering buang air kecil. Wirawan menerangkan bahwa kadar gula darah yang tinggi menyebabkan glukosa ikut terbuang melalui urine. Kondisi ini meningkatkan tekanan osmotik sehingga menarik lebih banyak cairan keluar dari tubuh. Proses yang disebut diuresis osmotik tersebut membuat produksi urine meningkat dan memicu rasa haus berlebihan.

Ia menambahkan, urine penderita diabetes dengan kadar gula tinggi bahkan dapat mengandung glukosa, yang secara tradisional ditandai dengan seringnya semut mendatangi area bekas buang air kecil.

Selain gejala awal, Wirawan mengingatkan adanya risiko komplikasi yang terbagi menjadi dua kategori, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Komplikasi akut umumnya terjadi akibat perubahan drastis kadar gula darah, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah, yang dapat memicu kondisi gawat darurat seperti koma diabetik.

Sementara itu, komplikasi kronis berkembang akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam waktu lama. Kerusakan dapat terjadi pada pembuluh darah kecil maupun besar. Gangguan pembuluh darah kecil berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal dan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Adapun kerusakan pembuluh darah besar meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Di luar gangguan pembuluh darah, komplikasi jangka panjang juga dapat menyerang organ lain, seperti perlemakan hati serta gangguan pergerakan usus.

Wirawan menekankan pentingnya deteksi dini dan pengendalian gula darah melalui pola hidup sehat dan pengobatan teratur guna mencegah perkembangan komplikasi yang lebih berat.