Demensia usia muda kini menjadi perhatian serius setelah studi terbaru mengungkap sedikitnya 15 faktor risiko yang dapat memicu kondisi tersebut sebelum usia 65 tahun. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah JAMA Neurology dan menegaskan bahwa gangguan kognitif tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia.
Penelitian berskala besar yang menganalisis data lebih dari 350 ribu partisipan dalam basis data UK Biobank menemukan bahwa risiko demensia pada usia muda dipengaruhi kombinasi faktor genetik, kondisi medis, serta gaya hidup. Artinya, sebagian besar risiko sebenarnya dapat ditekan melalui perubahan kebiasaan sejak dini.
Mengacu pada klasifikasi Harvard Health Publishing, masyarakat perlu memahami perbedaan istilah yang kerap tertukar. Demensia dini merujuk pada tahap awal penyakit atau gangguan kognitif ringan tanpa memandang usia penderita. Sementara demensia usia muda adalah diagnosis demensia yang ditegakkan pada individu berusia di bawah 65 tahun.
Dalam aspek biologis, faktor genetik seperti keberadaan alel APOE ε4 disebut meningkatkan risiko karena berperan dalam proses pembersihan amiloid di otak. Penumpukan plak amiloid menjadi salah satu pemicu utama penyakit Alzheimer. Selain itu, riwayat stroke, penyakit jantung, serta diabetes—terutama pada pria—turut meningkatkan risiko akibat gangguan aliran darah ke otak.
Gangguan pendengaran juga masuk dalam daftar faktor risiko penting. Minimnya stimulasi suara ke otak dinilai dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. Kondisi ini memperkuat temuan bahwa kesehatan sensorik memiliki hubungan erat dengan kesehatan otak.
Dari sisi gaya hidup, konsumsi alkohol berlebihan terbukti berdampak pada kerusakan lobus frontal yang berfungsi mengatur memori dan kemampuan eksekutif. Isolasi sosial pun berkontribusi terhadap peningkatan risiko karena kurangnya interaksi membuat otak jarang terstimulasi dan rentan mengalami penyusutan. Kekurangan vitamin D juga dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi virus yang dapat merusak sistem saraf.
Para peneliti menekankan bahwa meski faktor genetik tidak dapat diubah, sebagian besar faktor risiko lainnya bersifat modifiable atau dapat dikendalikan. Pemeriksaan kesehatan rutin untuk memantau tekanan darah, kadar gula, serta fungsi jantung menjadi langkah penting. Gangguan pendengaran juga disarankan segera ditangani, termasuk dengan penggunaan alat bantu dengar bila diperlukan.
Selain itu, pemenuhan nutrisi seimbang dengan asupan vitamin D yang cukup, olahraga teratur, serta menjaga aktivitas sosial dinilai mampu membantu mempertahankan plastisitas otak. Pembatasan konsumsi alkohol dan menjauhi narkotika juga menjadi bagian dari upaya pencegahan untuk menjaga kesehatan saraf jangka panjang.
Temuan ini mempertegas bahwa pencegahan demensia sebaiknya dimulai jauh sebelum usia lanjut. Kesadaran terhadap faktor risiko sejak usia produktif menjadi kunci untuk menjaga fungsi kognitif tetap optimal hingga usia senja. (balqis)









Tinggalkan Balasan