Bulan Ramadan kerap dimanfaatkan banyak orang untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat. Perubahan pola makan karena adanya waktu sahur dan berbuka sebenarnya dapat menjadi momentum bagi tubuh untuk melakukan pemulihan alami.

Namun, manfaat puasa sering kali tidak terasa maksimal ketika menu sahur dan berbuka justru didominasi makanan tinggi gula dan lemak.

Menurut Zaidul Akbar, puasa memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan. Di antaranya membantu proses detoksifikasi alami tubuh, meningkatkan performa otak, mendukung pembentukan massa otot bila dibarengi aktivitas fisik, serta memperkuat sistem imun.

“Tapi syaratnya, tidak akan berefek kalau makannya ngawur,” tegasnya dalam tayangan di kanal YouTube SAHABAT Dr. Zaidul Akbar.

Dua “Biang Kerok” yang Perlu Dihindari

Ia menyebut ada dua jenis bahan yang sebaiknya ditekan konsumsinya selama Ramadan, yakni lemak trans dan gula olahan.

Lemak trans umumnya terdapat pada makanan yang digoreng dengan minyak berulang kali, margarin, makanan cepat saji, serta camilan kemasan. Sementara gula olahan banyak ditemukan pada gula pasir, minuman manis instan, aneka kue berbahan tepung, dan produk olahan terigu.

Menurutnya, dengan mengurangi dua bahan tersebut, tubuh memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan regenerasi sel secara optimal selama puasa.

Selain itu, pembatasan gula dan lemak trans membantu tubuh membersihkan patogen sekaligus memperbaiki keseimbangan mikrobioma, terutama di saluran pencernaan. Kesehatan usus yang baik juga berpengaruh pada keseimbangan fisik dan mental karena adanya hubungan erat antara usus dan otak.

Atur Komposisi Makan

Bagi yang ingin meningkatkan sensitivitas insulin selama Ramadan, ia menyarankan untuk menekan konsumsi gula dan karbohidrat olahan.

Dalam satu piring makanan, komposisi ideal menurutnya adalah memperbanyak sayuran dan protein, sementara karbohidrat tetap ada namun tidak mendominasi.

Ia juga mengingatkan bahwa Islam telah mengenalkan sumber rasa manis alami yang lebih sehat, seperti kurma. Meski demikian, konsumsinya tetap tidak boleh berlebihan.

Sebagai langkah praktis, ia menganjurkan untuk mulai mengurangi bahkan menghentikan penggunaan gula pasir selama Ramadan. Alternatifnya, rasa manis dapat diperoleh dari madu atau sumber gula alami lain yang kaya serat.

Tak hanya itu, ia juga menyarankan untuk menghindari produk berbasis terigu karena termasuk kategori gula olahan yang dapat menghambat manfaat puasa.

Jika pola makan ini dijalankan secara konsisten sepanjang Ramadan, perubahan positif seperti berat badan lebih terkontrol, energi meningkat, dan tubuh terasa lebih ringan biasanya mulai dirasakan menjelang akhir bulan. (balqis)