Virus Nipah Asia kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi satu kematian akibat infeksi virus tersebut di wilayah utara Bangladesh. Kasus ini mendorong sejumlah negara di kawasan Asia meningkatkan kewaspadaan dan memperketat pemantauan kesehatan, khususnya di pintu masuk internasional.

WHO melaporkan, perempuan berusia sekitar 40 hingga 50 tahun itu mulai mengalami gejala pada Selasa (21/01/2026), berupa demam dan sakit kepala. Kondisinya kemudian memburuk dengan munculnya produksi air liur berlebih, disorientasi, hingga kejang. Pasien tersebut meninggal dunia sekitar sepekan kemudian dan hasil pemeriksaan laboratorium memastikan infeksi virus nipah sehari setelah kematian.

Otoritas kesehatan menyebutkan, korban tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah. Namun, ia diketahui sempat mengonsumsi getah mentah dari pohon kurma, yang selama ini diyakini sebagai salah satu jalur penularan virus nipah. WHO juga menyatakan sebanyak 35 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien saat ini masih berada dalam pemantauan.

Kasus di Bangladesh ini terjadi tidak lama setelah dua infeksi virus Nipah terdeteksi di India. Rangkaian temuan tersebut membuat negara-negara Asia meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara.

Virus Nipah dikenal sebagai patogen mematikan yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. WHO mengategorikan virus ini sebagai penyakit berisiko tinggi. Penularan pada manusia tergolong jarang dan umumnya terjadi melalui transmisi dari hewan, terutama kelelawar, baik secara langsung maupun melalui konsumsi buah atau cairan yang terkontaminasi.

Tingkat fatalitas virus Nipah dilaporkan dapat mencapai hingga 75 persen, meskipun penyebarannya antar manusia relatif terbatas. Bagi pasien yang selamat, infeksi ini berpotensi menimbulkan gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang hingga perubahan perilaku.

Sebagai langkah antisipasi, Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan mulai menerapkan pemeriksaan suhu tubuh bagi penumpang di bandara. Singapura bahkan memberlakukan kebijakan khusus bagi pekerja migran yang datang dari wilayah Benggala Barat, dengan kewajiban pemeriksaan suhu harian serta pemantauan gejala selama 14 hari.

Di luar Asia Selatan, laporan infeksi serupa juga muncul di Filipina. Hasil penyelidikan awal mengindikasikan bahwa kasus tersebut disebabkan oleh virus Nipah atau virus dengan karakteristik yang sangat mirip, sehingga menambah urgensi penguatan sistem deteksi dan respons kesehatan lintas negara.