Jakarta – Sebuah studi terbaru mengungkap sisi gelap di balik popularitas para penyanyi. Di tengah sorotan lampu panggung dan dukungan penggemar, penelitian menunjukkan bahwa ketenaran ternyata berkaitan dengan usia hidup yang lebih pendek. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health pada 25 November 2025 dan kembali memicu diskusi mengenai kesehatan para figur publik.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mendapati bahwa penyanyi terkenal cenderung meninggal pada usia yang lebih muda. Rata-rata umur penyanyi yang mencapai status selebritas tercatat sekitar 75 tahun, sementara mereka yang tidak terkenal bisa hidup hingga rata-rata 79 tahun. Temuan itu diambil dari data yang dikutip Medical Express, dan mengindikasikan bahwa ketenaran dapat menjadi faktor risiko kesehatan tambahan.

Untuk mengidentifikasi hubungan tersebut, para peneliti membandingkan risiko kematian pada 648 penyanyi yang dianalisis secara retrospektif. Separuh dari mereka masuk kategori selebritas, sementara sisanya tidak. Data penyanyi terkenal diambil dari daftar “2000 Artis Teratas Sepanjang Masa” yang dihimpun dari penilaian kritikus dan profesional industri musik. Mayoritas penyanyi dalam penelitian ini merupakan laki-laki, kebanyakan berasal dari Amerika Utara, serta didominasi oleh genre rock.

Hasilnya menunjukkan bahwa para penyanyi yang mencapai puncak popularitas memiliki risiko kematian lebih tinggi, yaitu sekitar 33%, terutama setelah masa ketenaran mereka. Para peneliti menilai, intensitas kerja, tekanan untuk selalu tampil sempurna, hingga pemantauan publik yang terus menerus menjadi faktor yang dapat memperburuk kondisi psikososial mereka.

Analisis tersebut juga mengaitkan ketenaran dengan munculnya tekanan mental dan gaya hidup yang tidak stabil, yang kemudian berpotensi memicu perilaku tidak sehat. Peneliti menggambarkan ketenaran sebagai “titik balik risiko kesehatan” yang dapat memperburuk kerentanan yang sebelumnya sudah ada. Risiko ini bahkan disebut sebanding dengan kebiasaan merokok sesekali, yang juga memiliki dampak signifikan terhadap peluang hidup.

Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bersifat observasional. Artinya, hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan secara langsung. Mereka mengakui bahwa sampel yang digunakan tidak bersifat global dan terbatas pada penyanyi, sehingga tidak dapat digeneralisasi pada profesi lain seperti aktor atau atlet. Penelitian juga belum menentukan apakah ketenaran itu sendiri, tuntutan industri musik, atau gaya hidup musisi yang lebih berperan dalam meningkatkan risiko kematian dini.

Meski demikian, peneliti menilai temuan tersebut menjadi pengingat penting bahwa sorotan gemerlap industri hiburan kerap diiringi tekanan besar yang tidak terlihat publik. Kehilangan privasi, tuntutan performa yang tinggi, dan beban mental yang terus menumpuk dinilai sebagai faktor yang tak bisa diabaikan.

Temuan ini kembali membuka diskusi mengenai perlunya dukungan kesehatan mental yang lebih baik bagi para musisi dan pekerja industri hiburan. Di balik panggung megah dan popularitas, para penyanyi ternyata menghadapi risiko kesehatan yang jauh lebih besar dari yang tampak. (balqis).