Media Kampung – 20 Maret 2026 | Penggunaan WhatsApp yang meluas menjadikannya target utama bagi peretas yang ingin mencuri data pribadi. Baru-baru ini, sejumlah laporan mengungkap pola serangan yang masih belum disadari banyak pengguna.

Salah satu tanda paling awal adalah munculnya notifikasi “Kode Verifikasi” yang tidak diminta. Hal ini menandakan seseorang sedang mencoba mengaktifkan akun pada perangkat baru.

Pengguna yang menerima kode tersebut namun tidak mengirimnya harus segera mengabaikannya, karena peretas dapat memanfaatkan kode untuk mengambil alih akun.

Aktivitas login dari lokasi atau perangkat yang tidak dikenal juga menjadi indikator kuat. WhatsApp menampilkan “Terakhir dilihat pada” beserta rincian perangkat pada bagian “Perangkat Terkait”.

Jika daftar perangkat menampilkan nama atau model yang tidak dikenali, pengguna sebaiknya menutup sesi secara paksa. Langkah ini dapat dilakukan melalui menu Pengaturan → Perangkat Terkait → Keluar dari semua sesi.

Tanda lain yang sering terlewat adalah perubahan foto profil tanpa persetujuan. Peretas biasanya mengganti foto untuk menyamarkan identitas mereka saat mengirim pesan palsu.

Pengguna yang memperhatikan perbedaan gambar profil dapat mendeteksi penyusupan lebih cepat. Perubahan tersebut sering diikuti dengan pengiriman pesan yang tampak biasa namun berisi tautan berbahaya.

Pesan yang terkirim secara otomatis kepada kontak tanpa sepengetahuan pemilik akun menjadi sinyal penting. Peretas memanfaatkan bot atau skrip untuk menyebarkan malware melalui tautan yang tampak terpercaya.

Jika sejumlah teman melaporkan menerima pesan aneh dari nomor yang sama, kemungkinan besar akun sedang disusupi. Pengguna harus menghentikan sesi login dan mengganti kata sandi segera.

Penurunan drastis pada masa pakai baterai juga dapat mengindikasikan adanya aplikasi pihak ketiga yang memantau aktivitas WhatsApp. Aplikasi semacam itu sering beroperasi di latar belakang tanpa izin jelas.

Pengguna dapat memeriksa konsumsi baterai di menu Pengaturan → Baterai untuk mengidentifikasi aplikasi yang tidak dikenal. Menghapus aplikasi mencurigakan dapat menghentikan pemantauan lebih lanjut.

Selain itu, munculnya iklan pop‑up di dalam aplikasi WhatsApp menandakan modifikasi tidak resmi. Modifikasi tersebut biasanya terjadi pada versi modifikasi atau APK tidak resmi.

Untuk menghindari risiko, pengguna disarankan mengunduh aplikasi hanya dari Google Play Store atau Apple App Store. Versi resmi memiliki tanda verifikasi keamanan yang dapat dilihat pada halaman unduhan.

Pakar keamanan siber, Rina Pratama, menekankan pentingnya verifikasi dua langkah. “Mengaktifkan verifikasi dua faktor menambah lapisan perlindungan yang sulit ditembus,” ujarnya.

Verifikasi dua langkah dapat diaktifkan melalui Pengaturan → Akun → Verifikasi dua langkah, dengan memasukkan PIN pribadi yang tidak mudah ditebak. PIN tersebut akan diminta setiap kali nomor telepon berubah atau aplikasi dipasang di perangkat baru.

Selain PIN, penggunaan kata sandi kuat untuk perangkat juga menjadi garis pertahanan pertama. Peretas tidak dapat mengakses aplikasi jika layar terkunci dengan biometrik atau pola yang kompleks.

Penggunaan jaringan Wi‑Fi publik tanpa VPN meningkatkan peluang penyadapan data. Paket data seluler lebih aman karena terenkripsi end‑to‑end oleh protokol WhatsApp.

Rina menambahkan, “Jangan pernah membagikan kode verifikasi atau PIN kepada siapapun, termasuk orang yang mengaku dari tim dukungan WhatsApp.” Penipuan semacam ini merupakan taktik sosial engineering yang umum.

Jika akun sudah terlanjur disusupi, langkah pemulihan meliputi menghapus semua pesan, mengaktifkan kembali verifikasi dua langkah, dan melaporkan insiden ke tim keamanan WhatsApp. Tim biasanya menanggapi laporan dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Pengguna juga disarankan untuk memperbarui aplikasi secara berkala. Setiap pembaruan membawa perbaikan kerentanan yang diketahui oleh pengembang.

Secara keseluruhan, kewaspadaan terhadap notifikasi tak dikenal, perubahan profil, dan perilaku aneh pada perangkat dapat mencegah serangan lebih luas. Kesadaran pengguna menjadi faktor kunci dalam melindungi privasi digital.

Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang disebutkan, pengguna dapat meminimalkan risiko penyadapan dan menjaga komunikasi tetap aman. WhatsApp tetap menjadi platform yang andal bila dipakai dengan prosedur keamanan yang tepat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.