Media Kampung – 30 Maret 2026 | Iran mengumumkan Selat Hormuz tetap terbuka untuk semua kapal kecuali yang ditetapkan sebagai musuh, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.

Pernyataan itu disampaikan dalam surat kepada 176 anggota Organisasi Maritim Internasional, menekankan keamanan pelayaran bagi kapal non‑musuh yang berkoordinasi dengan otoritas Tehran.

Selat Hormuz menjadi jalur penting yang mengalirkan sekitar satu per lima pasokan minyak dan gas dunia, menjadikannya titik krusial bagi stabilitas energi global.

Teheran telah memberlakukan blokade de‑facto selama beberapa minggu sebagai respons terhadap aksi militer Amerika Serikat dan Israel, menjadikan selat sebagai alat tawar‑menawar geopolitik.

Di samping blokade, parlemen Iran sedang menyusun undang‑undang untuk mengenakan biaya transit pada kapal yang melintasi selat, dengan alasan biaya tersebut mendukung langkah keamanan.

Pejabat menegaskan bahwa biaya itu setara dengan bea masuk, karena kapal memperoleh manfaat dari koridor yang dijaga dan karenanya wajib membayar.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengaktifkan sistem “pos tol” yang mewajibkan kapal mengikuti rute yang telah disetujui dan menonaktifkan AIS selama transit.

Lloyd’s List melaporkan 26 kapal telah menggunakan rute IRGC dalam dua minggu terakhir, dan setidaknya dua di antaranya membayar biaya dalam yuan melalui perantara layanan maritim China.

Anggota parlemen Alaeddin Boroujerdi menyatakan bahwa beberapa kapal dikenai tarif hingga US$2 juta, sekitar Rp 33,8 miliar, untuk memperoleh slot transit yang aman.

Iran memberikan izin pelayaran kepada kapal dari negara‑negara yang dianggap sahabat, termasuk Malaysia, China, Mesir, korea selatan, dan India, setelah memastikan tidak ada dukungan terhadap aksi agresi terhadap Tehran.

Daftar negara yang diizinkan disebarluaskan setelah perundingan diplomatik, dan setiap kapal wajib berkoordinasi dengan otoritas maritim Iran sebelum memasuki selat.

Pada 27 Maret, Iran membuka satu jalur khusus untuk kapal bantuan kemanusiaan, memungkinkan pengiriman barang penting meskipun blokade umum tetap berlaku.

PBB membentuk gugus tugas untuk mengawasi distribusi barang esensial seperti pupuk melalui jalur kemanusiaan, menyoroti dualitas status selat yang sekaligus terkendali dan terbuka.

Pengamat menilai bahwa sistem tol dan akses terbatas dapat memengaruhi biaya pengiriman serta pilihan rute, sementara penutupan bagi kapal AS tetap menjadi tekanan terhadap Washington.

Strategi Iran menggabungkan keamanan, pendapatan, dan sinyal diplomatik, dengan tujuan mempertahankan kontrol atas chokepoint yang mendukung pasar energi global.

Situasi masih dinamis, dan dunia akan memantau apakah struktur biaya serta pengecualian ini mampu meredam eskalasi lebih lanjut atau memicu langkah balasan baru.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.