Media Kampung – 29 Maret 2026 | Menlu Rusia Sergey Lavrov menolak tuduhan Jerman bahwa Moskow memberikan intelijen kepada Iran, sambil menegaskan bahwa Rusia memang memasok produk militer ke Tehran.

Menlu Luar Negeri Jerman Johann Wadephul sebelumnya menuduh Rusia menyediakan informasi intelijen bagi Iran untuk merencanakan serangan, menyebutnya sebagai bagian agenda politik Presiden Vladimir Putin.

Wadephul menilai kerja sama intelijen tersebut dimaksudkan untuk membantu Iran menargetkan instalasi militer Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan itu dilaporkan United24 dan DPA International, serta disertai tawaran Jerman membantu mengamankan Selat Hormuz setelah perang berakhir.

Jerman juga mengkritik komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang Ukraina bukan perang Amerika.

Intelijen Barat menilai Rusia telah mengirim drone Geran‑2 ke Iran, varian lokal drone Shahed yang diproduksi di Rusia.

Drone Geran‑2 diperkirakan akan dipakai dalam operasi regional melawan sasaran Amerika dan Israel.

Iran sempat meminta sistem pertahanan udara S‑400 dari Moskow untuk melawan serangan udara potensial.

Moskow menolak permintaan tersebut dengan alasan dapat meningkatkan eskalasi dengan Amerika Serikat.

Lavrov menyatakan tuduhan bantuan intelijen tidak memiliki bukti, menambahkan pangkalan militer AS di Timur Tengah sudah diketahui publik.

Ia menekankan hubungan militer Rusia‑Iran terbatas pada kerja teknis dan pemasokan peralatan.

Menurut Lavrov, Rusia telah mengirim sejumlah produk militer, termasuk artileri, komponen pertahanan udara, dan sistem tanpa awak, ke angkatan bersenjata Iran.

Pengiriman tersebut menurutnya mengikuti kontrak yang sudah ada dan tidak menandakan aliansi strategis baru.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut tuduhan Jerman tidak berlandaskan fakta dan memperingatkan dapat mempengaruhi hubungan bilateral.

Wadephul menanggapi bahwa Jerman akan terus memantau interaksi Rusia‑Iran serta bekerja sama dengan sekutu untuk menjaga stabilitas regional.

Ia kembali menegaskan kesiapan Berlin membantu mengamankan lalu lintas maritim di Selat Hormuz setelah konflik mereda.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak global, dan setiap ketegangan dapat mengguncang pasar energi.

Para analis mencatat bahwa dukungan Rusia, meski terbatas pada peralatan, meningkatkan kemampuan Iran menantang operasi AS di Teluk Persia.

Penolakan pengiriman S‑400 menunjukkan Moskow berhati‑hati agar tidak memicu konfrontasi langsung dengan Washington.

Kementerian Luar Negeri Jerman menyoroti bahwa berbagi intelijen, bila terbukti, akan melanggar norma internasional.

Sebaliknya, pejabat Rusia berargumen bahwa bantuan militer teknis adalah hak kedaulatan dan bukan bentuk kolaborasi intelijen.

Perselisihan ini muncul di tengah ketegangan yang lebih luas terkait keterlibatan Rusia di Ukraina serta hubungan dengan negara non‑Barat.

Washington berulang kali memperingatkan Tehran agar tidak memperdalam kerja sama militer dengan Moskow karena mengancam keamanan regional.

Sementara itu, PBB terus menyerukan de‑eskalasi di Timur Tengah dan menekankan pentingnya jalur pelayaran yang terbuka.

Baik Jerman maupun Rusia berjanji akan melanjutkan dialog diplomatik untuk menyelesaikan tuduhan dan mencegah kesalahpahaman.

Pengamat mencatat bahwa pernyataan publik mencerminkan tekanan politik domestik di Berlin dan Moskow menjelang pemilihan mendatang.

Situasi menyoroti kompleksitas kemitraan Rusia‑Iran yang memadukan penjualan senjata komersial dengan pertimbangan geopolitik.

Lavrov menutup dengan menegaskan Rusia akan mempertahankan kontrak yang ada dengan Iran sambil mematuhi hukum internasional.

Ia mengajak negara lain fokus pada pengaturan keamanan yang konstruktif daripada tuduhan tak berdasar.

Perkembangan ini tetap dinamis, dan komunitas internasional akan memantau bagaimana interaksi militer Rusia‑Iran berlanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.