Media Kampung – 28 Maret 2026 | Washington dan Yerusalem menunjukkan pandangan yang berbeda mengenai usulan gencatan senjata dengan Tehran. Perselisihan itu muncul setelah Amerika Serikat menyampaikan proposal 15 poin melalui Pakistan.
Pihak Israel menekankan tiga isu utama: masa depan program rudal balistik Iran, penyerahan uranium terperak kepada IAEA, dan pelonggaran sanksi ekonomi. Ketiga poin tersebut dianggap krusial bagi keamanan regional menurut pejabat Israel.
Sementara itu, Amerika Serikat mengusulkan jeda satu bulan untuk menghentikan permusuhan aktif. Jeda tersebut dimaksudkan membuka ruang dialog lebih luas antara Washington dan Tehran.
Pernyataan resmi Iran belum dipublikasikan secara terbuka, namun seorang pejabat yang tidak disebutkan nama menyampaikan tanggapan lewat kantor berita Tasnim. Iran menuntut penghentian semua serangan, jaminan tidak ada konflik selanjutnya, serta kompensasi.
Tuntutan tambahan Iran mencakup pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz. Pihak Tehran juga menuntut agar AS menghentikan dukungan militer kepada kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Kekhawatiran di Israel mencuat bahwa Presiden Donald Trump dapat mendorong gencatan senjata sementara demi kepentingan politik domestik. Israel khawatir langkah itu dapat mengurangi tekanan militer terhadap Tehran.
Serangan udara bersama antara AS dan Israel terus berlanjut sejak 28 Februari. Hingga kini, lebih dari 1.340 korban tewas, termasuk pejabat senior Iran.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel serta instalasi militer Amerika di Yordania, Irak, dan negara‑negara Teluk. Balasan tersebut memperparah ketegangan di kawasan.
Mediator Pakistan berperan mengantarkan proposal AS ke Tehran, namun jadwal pertemuan resmi belum ditetapkan. Upaya diplomatik tersebut masih berada pada tahap awal.
Para analis menilai bahwa perbedaan prioritas antara Washington dan Yerusalem dapat memperlambat proses perdamaian. AS lebih menekankan pada jeda humaniter, sementara Israel menuntut jaminan strategis.
Jika gencatan senjata sementara disetujui, kemungkinan akan ada mekanisme verifikasi oleh pihak ketiga. Namun, Israel menolak verifikasi yang tidak mencakup pembatasan program rudal Iran.
Komunitas internasional memantau situasi dengan cermat, mengingat potensi eskalasi yang dapat meluas ke negara lain. Perserikatan Bangsa‑Bangsa belum mengeluarkan resolusi khusus.
Kondisi di dalam negeri Iran juga memengaruhi keputusan Tehran. Tekanan ekonomi akibat sanksi memperkuat keinginan pemerintah untuk mengamankan jalur perdagangan melalui Hormuz.
Pemerintah AS menyatakan bahwa usulan 15 poin tetap fleksibel dan terbuka untuk revisi. Washington menegaskan komitmennya pada penyelesaian damai yang menghindari pertempuran lebih lanjut.
Situasi saat ini tetap tegang, dengan kedua belah pihak menyiapkan opsi militer sekaligus diplomatik. Kedepannya, perkembangan negosiasi akan menjadi faktor utama dalam menilai stabilitas Timur Tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan