Media Kampung – 28 Maret 2026 | Tiga pakar Timur Tengah menilai serangan Amerika Serikat ke Tehran sebagai jebakan yang dapat memperburuk posisi Washington di kawasan, karena menimbulkan gelombang balasan Iran yang meluas ke negara‑negara Arab.

Balasan Iran menitikberatkan pada negara‑negara Teluk yang menjadi basis militer Amerika, dengan 83 persen rudal dan drone diarahkan ke mereka, bukan ke Israel yang menjadi target utama konflik.

Menurut laporan Stimson Center, sejak 28 Februari telah tercatat 4.391 serangan drone dan rudal Iran, di mana Uni Emirat Arab menerima 2.156 serangan dan Arab Saudi 723, menunjukkan konsentrasi serangan pada kawasan GCC.

Serangan tersebut menewaskan puluhan warga sipil, termasuk ribuan guru dan murid di Iran, menambah beban kemanusiaan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Chris Doyle, direktur Council for Arab‑British Understanding, menegaskan bahwa klaim Iran hanya menargetkan pasukan AS tidak dapat dipercaya karena infrastruktur sipil juga menjadi sasaran.

Doyle menambahkan bahwa strategi Tehran adalah membuat perang menjadi beban ekonomi dan militer yang tak tertahankan bagi Amerika, sehingga memaksa Washington mencari penyelesaian diplomatik lebih cepat.

Dengan melibatkan hingga dua belas negara dalam front militer baru, Iran meningkatkan biaya operasional dan politik bagi sekutu AS, sekaligus menekan aliansi regional.

UAE menjadi target utama tidak lepas dari hubungannya yang erat dengan Israel, menurut Doyle, sementara negara‑negara Teluk lain mendapat perlakuan yang lebih hati‑hati.

Meskipun serangan udara gabungan AS‑Israel menimbulkan kerusakan pada fasilitas militer Iran, kemampuan misil dan drone Tehran tetap beroperasi, memberi Tehran posisi tawar dalam negosiasi.

Ross Harrison, peneliti senior Middle East Institute, mengamati peningkatan kepercayaan diri kepemimpinan Iran setelah hampir satu bulan pertempuran, yang mempengaruhi keputusan menolak tawaran damai Amerika.

Kontrol Tehran atas Selat Hormuz menambah bobot strategis, karena gangguan di jalur pengiriman energi dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.

Tekanan yang dialami negara‑negara GCC memaksa mereka meninjau kembali kebijakan keamanan bersama Amerika, termasuk keberadaan pangkalan militer di wilayah mereka.

Pakar menegaskan bahwa penggunaan serangan kinetik oleh AS dapat memperluas konflik, mengakibatkan kerugian lebih besar bagi sekutu Arab dibandingkan bagi musuh utama, Iran.

Kondisi ini menegaskan bahwa kebijakan militer Amerika berisiko menimbulkan konsekuensi tak terduga, sekaligus menambah beban politik dan ekonomi pada negara‑negara Teluk yang tidak terlibat langsung dalam perang.

Situasi tetap tidak stabil, dengan Iran terus memanfaatkan jaringan misilnya untuk menekan Amerika, sementara negara‑negara Arab menanggung dampak utama dari serangan yang dipicu oleh kebijakan Washington.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.