Media Kampung – 27 Maret 2026 | Pertemuan terbaru antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menimbulkan sorotan kembali pada serangan Pearl Harbor, ketika Trump menyebut peristiwa tersebut dalam pembicaraan mengenai kebijakan luar negeri.
Pada 7 Desember 1941, armada Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor, menewaskan sekitar 2.400 anggota angkatan laut, militer, dan warga sipil serta menghancurkan kapal perang dan pesawat.
Keberuntungan Amerika terletak pada dua kapal induk utama, USS Lexington dan USS Enterprise, yang sedang berada di laut sehingga tidak ikut dihancurkan dalam serangan.
Motif Jepang didorong oleh embargo minyak yang diberlakukan Amerika dan sekutunya, dengan harapan serangan akan memaksa Washington kembali ke meja perundingan, namun kalkulasi tersebut berbalik menjadi deklarasi perang.
Presiden Franklin D. Roosevelt menanggapi serangan dengan menyatakan “hari yang akan selamanya dikenang dalam infam” dan meminta Kongres mengesahkan perang terhadap Jepang pada hari berikutnya.
Keputusan tersebut memicu Jerman Nazi, yang memiliki aliansi tak resmi dengan Jepang, untuk menyatakan perang terhadap Amerika, memperluas konflik global menjadi perang dunia.
Setelah serangan, Amerika melancarkan kampanye militer di Pasifik yang meliputi serangkaian operasi penyerangan pulau, termasuk pertempuran berdarah di Iwo Jima dengan 6.800 korban, serta pertempuran Okinawa yang menelan lebih dari 12.000 jiwa marinir.
Di Front Barat, serangan D-Day di Normandia pada 6 Juni 1944 menewaskan sekitar 2.500 tentara Amerika pada hari pertama, menandai titik balik penting di Eropa.
Operasi Vengeance, misi rahasia yang diluncurkan oleh Amerika untuk menembak mati Laksamana Isoroku Yamamoto, arsitek serangan Pearl Harbor, berhasil menembus pertahanan Jepang dan menegaskan kemampuan intelijen AS.
Pertempuran kecil di pulau Ni’ihau pada Desember 1941, yang jarang dibahas dalam buku sejarah, menambah dimensi lain pada rangkaian konflik yang terjadi bersamaan dengan serangan utama di Pearl Harbor.
Dalam pertemuan itu, Trump melontarkan lelucon tentang “kejutan” yang mengingatkan pada strategi serangan Pearl Harbor, sekaligus menjustifikasi serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari dengan alasan kejutan tak terduga.
Takaichi menilai situasi geopolitik saat ini sebagai peluang bagi Jepang untuk memperkuat aliansi keamanan dengan Amerika, terutama di tengah ketegangan domestik AS yang dipicu oleh keputusan kebijakan luar negeri terbaru.
Pengamat politik menekankan bahwa ingatan kolektif atas Pearl Harbor tetap menjadi faktor utama dalam pembentukan kebijakan pertahanan dan hubungan bilateral antara Washington dan Tokyo.
Sejarah Pearl Harbor terus mengilhami diskusi tentang strategi militer, keamanan regional, dan dinamika politik internasional, menegaskan pentingnya pelajaran masa lalu dalam menghadapi tantangan masa kini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan