Media Kampung – 27 Maret 2026 | Korea Selatan secara resmi mengajukan permohonan kepada Oman agar meningkatkan pasokan minyak dan produk energi lainnya menjelang puncak krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Pemerintah Seoul menilai bahwa diversifikasi sumber energi menjadi prioritas mendesak setelah gangguan di Selat Hormuz memperparah ketidakstabilan pasar minyak dunia.
Oman, sebagai produsen minyak konvensional yang relatif stabil, dipandang mampu menyediakan suplai tambahan yang dapat meredam lonjakan harga dan memastikan ketersediaan bahan bakar bagi industri serta transportasi di Korea.
Diplomasi energi ini muncul bersamaan dengan upaya China memperkuat kerja sama energi terbarukan dengan negara‑negara Asia Tenggara, menandakan pergeseran strategi regional dalam menghadapi ketidakpastian pasokan fosil.
Wang Yi, Menteri Luar Negeri China, menekankan pentingnya menjaga stabilitas energi global sebagai bagian dari tanggung jawab Dewan Keamanan PBB, sekaligus mendorong kolaborasi lintas negara untuk mengatasi guncangan pasar.
Korea Selatan, dengan konsumsi energi sekitar 2,5 juta barel per hari, sangat bergantung pada impor minyak, terutama dari Teluk Persia, sehingga gangguan aliran melalui Selat Hormuz menimbulkan risiko strategis.
Penutupan parsial Selat Hormuz oleh Iran, serta serangan terhadap kapal tanker, telah mengurangi volume pengiriman minyak sebesar hampir 20 persen, memicu kenaikan harga dunia ke level tertinggi dalam dekade terakhir.
Akibatnya, negara‑negara Asia, termasuk Vietnam, Laos, dan Bangladesh, telah mengimplementasikan kebijakan darurat seperti subsidi bahan bakar dan pengurangan pajak energi untuk menahan dampak inflasi.
Korea Selatan berupaya meniru langkah-langkah tersebut dengan memperkuat hubungan bilateral kepada produsen energi di Timur Tengah yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Pihak Seoul menyoroti bahwa Oman memiliki kapasitas produksi sekitar 1,0 juta barel per hari serta jaringan distribusi yang dapat diakses melalui pelabuhan strategis di Muscat.
Selain minyak mentah, Oman juga mengembangkan proyek gas cair (LNG) yang dapat melengkapi kebutuhan energi bersih Korea Selatan, sejalan dengan target dekarbonisasi nasional hingga 2050.
Korea menegaskan bahwa kerjasama ini tidak hanya bersifat komersial, melainkan juga mencakup pertukaran teknologi pengolahan gas dan peningkatan efisiensi energi.
Seorang pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Seoul menyebut bahwa negosiasi dengan Oman sedang berada pada tahap akhir, dengan harapan menandatangani kontrak pasokan dalam tiga bulan ke depan.
Di sisi lain, Oman menyambut baik permintaan tersebut, mengingat diversifikasi pasar menjadi bagian penting dari strategi ekonomi sultanat setelah penurunan permintaan global pada 2024‑2025.
Pernyataan resmi Oman menegaskan kesiapan untuk meningkatkan volume ekspor, sambil tetap menjaga kestabilan pasokan domestik yang sedang mengalami tekanan akibat kebijakan pembatasan ekspor bahan bakar di China.
Kerjasama ini juga dipandang dapat memperkuat posisi Oman dalam jaringan energi Timur Tengah, mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Jepang dan korea utara.
Sementara itu, China terus menekankan pentingnya transisi energi terbarukan, mengingat konflik di Timur Tengah mempercepat kebutuhan akan sumber energi yang tidak rentan terhadap geopolitik.
Beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan China untuk pengembangan pembangkit tenaga surya dan angin, yang diharapkan menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Para analis energi menilai bahwa kombinasi pasokan tradisional dari Oman dan upaya pengembangan energi terbarukan akan memberi Korea Selatan ruang manuver lebih luas dalam mengelola risiko pasar.
Namun, mereka juga mengingatkan bahwa fluktuasi harga minyak masih dapat memengaruhi inflasi domestik, terutama pada sektor transportasi dan manufaktur yang menyerap sebagian besar konsumsi energi.
Dalam pertemuan bilateral yang diadakan di Muscat, kedua belah pihak membahas mekanisme penyesuaian harga yang fleksibel, mengingat volatilitas pasar yang dipicu oleh aksi militer di wilayah tersebut.
Kesepakatan tersebut mencakup skema penjaminan pasokan melalui kontrak jangka pendek, serta opsi pembelian kembali jika terjadi gangguan signifikan pada jalur pengiriman.
Para pengamat menilai bahwa langkah ini mencerminkan tren global di mana negara‑negara konsumen energi mencari keamanan pasokan melalui diversifikasi sumber dan kontrak jangka pendek.
Di luar sektor minyak, Korea Selatan juga mengeksplorasi kemungkinan impor pupuk dan bahan kimia penting dari Oman, mengingat gangguan rantai pasokan pertanian akibat penutupan Selat Hormuz.
Pengaruh krisis energi tidak hanya terasa pada harga bensin, tetapi juga pada biaya produksi pupuk, yang pada gilirannya dapat memengaruhi ketahanan pangan regional.
Dengan menambah pasokan dari Oman, Korea berharap dapat menstabilkan harga komoditas penting tersebut, sekaligus memberikan ruang bagi kebijakan subsidi yang lebih terfokus.
Pemerintah Seoul menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan mitra internasional, termasuk China, guna memastikan keamanan energi global yang berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Korea Selatan yang menekankan pentingnya dialog multilateral dalam menyelesaikan konflik Timur Tengah dan menjaga arus perdagangan energi.
Secara keseluruhan, upaya meminta dukungan Oman menandai perubahan strategi Korea Selatan dari ketergantungan pada satu jalur pasokan menuju pendekatan yang lebih holistik dan resilien.
Penutup, meski ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, kolaborasi energi antara Seoul dan Muscat diharapkan dapat mengurangi tekanan pasar, memperkuat ketahanan energi nasional, dan memberi kontribusi pada stabilitas regional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan