Media Kampung – 27 Maret 2026 | Ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum di Australia kehabisan persediaan akibat gangguan distribusi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Menteri Energi Chris Bowen menyampaikan bahwa lebih dari 520 SPBU terpaksa menutup operasi, sementara data terbaru menunjukkan angka mencapai 608, dan laporan terbaru mencatat 470 SPBU tidak memiliki setidaknya satu jenis bahan bakar.

Provinsi New South Wales mengalami tekanan paling berat, dengan puluhan stasiun di wilayah regional melaporkan kekosongan total, termasuk 32 yang tidak memiliki bahan bakar sama sekali.

Di Western Australia tercatat 40 SPBU tanpa solar, sedangkan di Victoria terdapat 45 stasiun yang kehabisan solar dan 72 yang kehabisan bensin; Queensland juga melaporkan 55 SPBU tanpa solar dan 33 tanpa bensin reguler.

Pemerintah federal merespon dengan melonggarkan standar diesel selama enam bulan serta mengaktifkan cadangan bahan bakar nasional untuk menambah pasokan pasar domestik.

Perdana Menteri Anthony Albanese menggelar rapat darurat kabinet untuk memperkuat koordinasi antar wilayah dan mempercepat pengiriman bahan bakar alternatif.

Lonjakan permintaan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari menjadi pemicu utama, meningkatkan tekanan pada jaringan logistik yang sudah terbatas.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menunda kedatangan kapal tanker, mengingat selat tersebut menyumbang sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga rantai pasok Australia terganggu.

Ketergantungan Australia pada impor minyak mentah membuat negara ini rentan terhadap fluktuasi pasar internasional dan konflik geopolitik.

Pihak berwenang menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying dan menyarankan penggunaan transportasi publik serta kendaraan berbahan bakar lebih efisien.

Fenomena serupa juga terlihat di negara‑negara tetangga; Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Singapura mencatat kenaikan harga BBM setelah krisis energi global melanda.

Pengiriman bahan bakar alternatif yang dijanjikan diharapkan dapat menstabilkan pasokan dalam beberapa minggu mendatang, meski daerah terpencil tetap menghadapi risiko kekurangan.

Krisis ini menegaskan perlunya diversifikasi sumber energi dan peningkatan kapasitas penyimpanan domestik untuk mengurangi dampak gangguan eksternal di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.