Media Kampung – 26 Maret 2026 | Kim Jong Un menegaskan kembali kebijakan mempertahankan status nuklir Korea Utara dalam pidato di Majelis Rakyat Tertinggi pada 26 Maret 2026, menyampaikan hal itu di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah dan tekanan internasional.
Pemimpin Pyongyang menuduh Amerika Serikat melakukan aksi terorisme dan agresi, menyebut perang AS‑Israel terhadap Iran sebagai bukti bahwa senjata nuklir menjadi satu‑satunya jaminan keamanan, dan ia menolak segala upaya Washington untuk menuntut pelucutan senjata nuklir.
Kim menambahkan bahwa keputusan mempertahankan arsenal nuklir telah terbukti tepat setelah serangan militer AS terhadap Iran memperlihatkan ketidakpastian geopolitik, karena menurutnya negara tanpa senjata nuklir lebih rentan terhadap intervensi militer.
Dalam pidato yang sama, Kim menyatakan bahwa status nuklir Korea Utara kini tidak dapat diubah lagi dan negara akan terus memperluas kemampuan senjata tersebut, termasuk peningkatan jumlah hulu ledak dan pengembangan rudal balistik jarak menengah hingga antarbenua.
Analisis intelijen SIPRI mencatat Korea Utara memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir dengan bahan fissil cukup untuk menambah 40 unit lagi, menegaskan bahwa Pyongyang berada pada tahap akhir pengembangan rudal taktis dengan jangkauan lebih pendek.
Pemerintah Seoul memperingatkan bahwa Korea Utara sedang menguji sistem peluncur yang dapat membawa muatan nuklir, termasuk rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal perang baru, menambah kekhawatiran Pyongyang mampu menyerang wilayah utama Amerika Serikat.
Kim Jong Un juga menyinggung kembali kemungkinan dialog dengan Amerika Serikat, namun menuntut pengakuan resmi atas status nuklir Korea Utara dan penghapusan apa yang ia sebut kebijakan bermusuhan Washington, sambil menolak prasyarat pelucutan senjata sebagai syarat awal perundingan.
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan sinyal terbuka dari mantan Presiden Donald Trump yang mengusulkan melanjutkan pembicaraan denuklirisasi, tetapi Pyongyang menegaskan bahwa agenda baru harus berfokus pada pengakuan hak kepemilikan nuklirnya.
Hubungan antara Korea Utara dan Iran tetap menjadi faktor geopolitik, mengingat kedua negara telah menjalin kerja sama militer sejak 1979; seorang mantan diplomat Korea Utara yang berbicara kepada BBC menyebut Iran sebagai pembeli utama senjata balistik Pyongyang.
Konflik di Timur Tengah, khususnya serangan AS‑Israel ke Iran, memperkuat keyakinan Kim bahwa senjata nuklir adalah satu‑satunya pelindung mutlak bagi negara, ia menggambarkan situasi tersebut sebagai “ancaman nyata bagi Amerika Serikat”.
Meskipun demikian, Kim menegaskan kesiapan Korea Utara untuk berpartisipasi dalam dialog multilateral jika pihak AS menghentikan kebijakan yang dianggapnya agresif, sambil menyoroti pentingnya aliansi dengan negara‑negara yang memiliki pandangan serupa terhadap Washington.
Sejak uji nuklir pertama pada 2006, Pyongyang telah melakukan enam ledakan nuklir, dengan yang terakhir pada 2017, diikuti oleh penolakan terhadap inspeksi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menambah isolasi diplomatik.
Pemerintah AS dan sekutunya tetap menilai Korea Utara sebagai ancaman strategis, sementara negara tersebut mengklaim bahwa kemampuan nuklirnya sudah siap pakai meski belum teruji secara penuh; pihak Seoul menilai Pyongyang mendekati pengembangan rudal balistik antarbenua yang dapat menjangkau daratan utama Amerika Serikat.
Para pakar hubungan internasional menilai bahwa sikap keras Kim memperkuat posisi tawar Pyongyang dalam negosiasi, namun menambah risiko eskalasi militer di Semikonduktor Asia Timur, dan mereka menekankan pentingnya diplomasi yang seimbang untuk mencegah konfrontasi lebih lanjut.
Dengan tekad yang semakin tegas, Korea Utara tampak siap mempertahankan statusnya sebagai kekuatan nuklir permanen, sambil membuka ruang bagi pembicaraan bila syarat kedaulatan dipenuhi, menambah ketidakpastian keamanan regional dan menuntut perhatian komunitas internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan