Media Kampung – 25 Maret 2026 | Netanyahu menunjukkan kemarahan setelah Mossad tidak berhasil menimbulkan pemberontakan di Iran. Kegagalan ini menambah tekanan pada pemerintahannya di tengah konflik yang terus memanas.
Mossad sempat yakin bahwa serangan militer Amerika Serikat dan Israel dapat memicu kerusuhan massal di dalam negeri Tehran. Rencana itu melibatkan pembunuhan pemimpin Iran pada fase awal konflik.
Ide tersebut dijanjikan sebagai cara mempercepat runtuhnya rezim teokratis dan mengakhiri perang lebih cepat. Namun, tiga minggu setelah permulaan perang, harapan itu belum terbukti.
Laporan New York Times mengungkap bahwa kepala Mossad David Barnea meyakinkan Netanyahu dan mantan Presiden AS Donald Trump bahwa oposisi Iran siap bangkit. Barnea menegaskan bahwa perubahan rezim dapat terjadi dalam hitungan hari.
Trump dalam pidatonya di awal konflik menegaskan bahwa siapa pun yang mengambil alih pemerintahan Iran “akan menjadi milik mereka”. Pernyataan itu menambah ekspektasi internasional akan intervensi.
Pada kenyataannya, pemberian dukungan militer belum memicu demonstrasi besar di kota-kota Iran. Penilaian intelijen AS dan Israel menunjukkan pemerintah Tehran tetap kuat meski menghadapi tekanan.
Kekhawatiran akan penindasan militer dan kepolisian Iran malah memperlambat munculnya aksi protes. Kelompok etnis di luar perbatasan juga menahan diri dari serangan lintas batas.
Kesalahan menilai kemampuan Israel dan AS untuk menggoyang kestabilan internal Iran menjadi titik lemah dalam perencanaan perang. Kesalahan itu kini menimbulkan kritik di dalam lingkaran keamanan Israel.
Netanyahu menanggapi kegagalan tersebut dengan nada keras, menyebutnya “kegagalan intelijen yang tidak dapat diterima”. Ia menuntut evaluasi menyeluruh terhadap strategi Mossad.
Sumber dalam militer Israel mengonfirmasi bahwa operasi intelijen tidak berhasil menembus jaringan oposisi Iran. Upaya mengumpulkan dukungan dalam negeri Iran ternyata lebih rumit dari perkiraan.
Pemerintah Iran, sebaliknya, memperkuat posisi militer dan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer, pelabuhan, serta instalasi energi di Teluk Persia. Serangan itu menandai eskalasi baru dalam konflik.
Serangan balasan tersebut menargetkan fasilitas strategis di lepas pantai Iran dan kapal-kapal dagang, menambah tekanan pada jalur pengiriman minyak dunia. Dampaknya dirasakan oleh pasar energi global.
Di dalam negeri, media Iran menutup rapat tentang kemungkinan pemberontakan, sementara para analis menilai bahwa rezim masih mengendalikan narasi publik. Kontrol informasi menjadi alat utama pemerintah.
Beberapa pejabat AS yang diwawancarai secara anonim mengakui bahwa harapan awal mereka kini berkurang. Meskipun demikian, sebagian kecil tetap optimis akan terjadinya perubahan di masa depan.
Israel juga menghadapi perdebatan internal mengenai peran darat dalam konflik. Netanyahu tetap bersikukuh bahwa dukungan pasukan darat akan mempercepat kemenangan.
Kritik domestik di Israel menyoroti risiko terlibat dalam perang yang berkepanjangan tanpa hasil politik yang jelas. Partai-partai oposisi menuntut transparansi lebih besar dalam kebijakan luar negeri.
Di sisi lain, Tehran menegaskan bahwa serangan asing tidak akan mengubah struktur kekuasaan. Pemerintah menyiapkan strategi pertahanan jangka panjang.
Konflik ini memperluas ketegangan di Timur Tengah, mempengaruhi negara-negara tetangga yang mengkhawatirkan dampak ekonomi dan keamanan. Hubungan diplomatik regional kini berada pada titik rawan.
Para pengamat menilai bahwa tanpa dukungan massa internal, perubahan rezim Iran akan tetap sulit dicapai oleh kekuatan luar. Kegagalan Mossad menjadi contoh nyata.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa perang masih berlangsung, sementara upaya memicu pemberontakan di Iran belum berhasil. Semua pihak tampak menunggu perkembangan selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan