Media Kampung – 24 Maret 2026 | Kementerian Pertahanan Ukraina menegaskan bahwa serangan jarak jauh ke wilayah Rusia akan meningkat sampai warga di Moscow, St. Petersburg, dan Krasnodar merasakan dampak langsung.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa tekanan pada infrastruktur sipil dan ekonomi menjadi faktor utama untuk memaksa Kremlin mempertimbangkan gencatan.
Pada malam 23 Maret, drone Ukraina menabrak terminal minyak terbesar di Laut Baltik, Primorsk, yang mengolah antara satu hingga satu setengah juta barel per hari.
Serangan itu menimbulkan kebakaran pada tangki bahan bakar dan fasilitas pemuatan, memaksa evakuasi personel pelabuhan dan menurunkan ekspor minyak Rusia secara signifikan.
Data satelit NASA mengonfirmasi kebakaran di area terminal produk petroleum ringan, menandakan kerusakan tidak hanya pada crude oil tetapi juga pada bensin, diesel, dan avtur.
Kerugian harian akibat penghentian muatan diperkirakan mencapai 41 juta dolar, menurut kanal pemantauan Ukraina.
Sementara itu, pada 21 Maret, Rusia melaporkan serangan drone terbesar tahun ini, dengan ledakan di Moscow, Saratov, dan intensitas tertinggi di wilayah Rostov.
Serangan tersebut termasuk beberapa unit yang menargetkan instalasi militer dan logistik di Krasnodar Krai.
Di Labinsk, Krasnodar Krai, drone Ukraina menghancurkan 18 dari 20 tangki penyimpanan bahan bakar pada 16 Maret, menurunkan kapasitas penyimpanan regional secara drastis.
Serangan tambahan terjadi di terminal minyak dekat pelabuhan Taman, Krasnodar, menambah tekanan pada jaringan distribusi energi selatan Rusia.
Kementerian Pertahanan Ukraina menjelaskan bahwa strategi ini telah dipersiapkan selama bertahun‑tahun untuk “membawa perang kembali ke tempat asalnya”.
Menteri pertahanan menambahkan bahwa serangan berkelanjutan ke kota-kota besar akan membuat keputusan damai lebih mungkin.
Para analis energi menilai bahwa serangan pada infrastruktur minyak menurunkan produksi Rusia sekitar 300.000 barel per hari, berdampak pada pasokan global.
Pasar minyak internasional merespon dengan kenaikan harga, sementara benchmark WTI sempat menembus 100 dolar per barel pada Senin pagi.
Pemerintah AS melonggarkan sanksi pada minyak Rusia dan Iran untuk menstabilkan harga, namun langkah itu tidak mengembalikan kapasitas produksi yang rusak.
Penyerangan terhadap Primorsk menandai serangan kedua dalam setahun; insiden September 2025 sebelumnya menargetkan dua tanker dan menghentikan muatan selama beberapa hari.
Serangan tersebut memaksa Rusia mengandalkan armada “shadow fleet” untuk mengalirkan minyak melalui jalur alternatif, menambah biaya logistik.
Penghancuran fasilitas di Krasnodar Krai memperkuat narasi Kiev bahwa perang kini meluas melampaui front linier tradisional.
Para pejabat militer Rusia menegaskan kesiapan pertahanan udara, namun hasil penangkapan drone tetap tinggi, dengan lebih dari 60 unit dibajak di Leningrad saja.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan strategi pertahanan Rusia di wilayah selatan dan kemungkinan penyesuaian taktik militer.
Dengan tekanan terus meningkat, analis memperkirakan bahwa keputusan politik di Moskow akan dipengaruhi oleh tingkat gangguan kehidupan sipil di kota-kota seperti Krasnodar.
Kondisi ini menandai fase baru konflik, di mana serangan energi dan infrastruktur menjadi senjata utama dalam upaya memaksa perubahan kebijakan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan