Media Kampung – 23 Maret 2026 | Sebuah serangan drone menimpa Rumah Sakit Pengajaran El‑Daein di Darfur Timur pada hari Jumat Idulfitri, menewaskan setidaknya 64 orang dan melukai 89 lainnya. Insiden itu menambah daftar tragedi medis dalam konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir tiga tahun di Sudan.
Direktorat Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengutuk aksi tersebut dan menyerukan penghentian segera konflik yang telah melukai jutaan warga. Menurutnya, korban sipil di fasilitas kesehatan tidak dapat ditoleransi.
Di antara yang tewas terdapat 13 anak-anak, dua perawat perempuan, satu dokter, serta sejumlah pasien yang dirawat di rumah sakit. Korban tambahan meliputi delapan tenaga kesehatan yang terluka dalam serangan itu.
Serangan itu menghancurkan unit pediatri, maternitas, dan layanan darurat, membuat rumah sakit tidak dapat melanjutkan operasional. Kerusakan parah memaksa evakuasi pasien ke fasilitas kesehatan lain yang sudah kewalahan.
WHO menanggapi dengan mengirimkan peralatan trauma, obat esensial, dan meningkatkan kapasitas perawatan di rumah sakit terdekat. Dukungan darurat ini dimaksudkan untuk mencegah kematian lebih lanjut di wilayah yang kekurangan layanan medis.
Kelompok advokasi Sudan, Emergency Lawyers, menilai serangan berasal dari drone militer yang diarahkan ke El‑Daein. Mereka menuduh pasukan militer Sudan sebagai pihak yang melancarkan serangan tersebut.
Kota El‑Daein berada di bawah kendali Rapid Support Forces (RSF), sementara militer Sudan menguasai wilayah timur, tengah, dan utara negara. Konflik antara kedua kubu sering memicu serangan balasan di daerah strategis.
Pihak militer Sudan dalam pernyataan resmi menegaskan komitmen pada hukum internasional dan menuduh RSF melakukan serangan ke fasilitas sipil. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kantor Kemanusiaan PBB menyatakan keterkejutannya atas penyerangan rumah sakit pada hari libur keagamaan. Pernyataan itu menekankan pentingnya akses aman bagi pekerja bantuan.
Sejak pecahnya konflik pada April 2023, WHO mencatat 2.036 orang tewas dalam 213 serangan terhadap fasilitas kesehatan. Data tersebut mencerminkan pola kekerasan yang menargetkan layanan medis.
Tedros menegaskan bahwa serangan terhadap layanan kesehatan menimbulkan dampak langsung dan jangka panjang bagi masyarakat yang sudah sangat membutuhkan bantuan. Ia menambahkan bahwa perdamaian adalah obat terbaik untuk menghentikan penderitaan.
Serangan terjadi tepat saat umat Muslim merayakan Idulfitri, memperparah trauma psikologis warga sipil. Banyak warga yang sedang menyiapkan ibadah bersama keluarga ketika ledakan terdengar.
Warga setempat melaporkan suara letusan keras diikuti asap tebal dan api yang melalap bangunan rumah sakit. Upaya pemadaman terganggu oleh ketidakamanan di sekitar lokasi.
Tim penyelamat berjuang mengangkat jenazah di tengah risiko serangan lanjutan dan akses jalan yang terbatas. Kondisi ini memperlambat proses evakuasi korban kritis.
Kehilangan rumah sakit menghilangkan layanan medis vital bagi lebih dari 200.000 penduduk di Darfur Timur. Tanpa fasilitas tersebut, kasus komplikasi kehamilan dan penyakit anak berisiko meningkat.
Klinik‑klinik tetangga kini menerima beban pasien yang melimpah, namun jalan menuju mereka sering terblokir oleh pertempuran. Keterbatasan transportasi menghambat rujukan pasien ke rumah sakit yang lebih besar.
Beberapa donor internasional berjanji menambah dana bantuan medis, namun pengiriman barang masih terhambat oleh kontrol perbatasan. Logistik menjadi tantangan utama dalam menyalurkan bantuan.
Kementerian Kesehatan Sudan mengumumkan rencana pemindahan layanan ke unit lapangan sementara di lokasi yang lebih aman. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan sebagian fungsi kesehatan.
Para analis memperingatkan bahwa penargetan berulang terhadap fasilitas kesehatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional. Penyelidikan independen diperlukan untuk menilai pelanggaran tersebut.
Perserikatan Bangsa Negara mendesak kedua belah pihak mematuhi Konvensi Jenewa dan memberikan akses kemanusiaan tanpa gangguan. Seruan tersebut mencerminkan keprihatinan global terhadap krisis kesehatan.
Insiden ini menambah tekanan pada proses perdamaian antara militer Sudan dan RSF yang dijadwalkan bulan depan. Negosiasi damai kini berada di bawah sorotan internasional.
Pengamat mencatat bahwa gencatan senjata yang telah disepakati berulang kali runtuh, meninggalkan warga dalam bahaya terus‑menerus. Ketidakstabilan ini memperburuk krisis kemanusiaan.
Keluarga korban menuntut pertanggungjawaban dan bantuan segera dari organisasi bantuan kemanusiaan. Mereka berharap agar korban dapat menerima perawatan dan dukungan psikologis.
WHO berkomitmen terus memantau situasi dan menyediakan pembaruan reguler mengenai keamanan layanan kesehatan di Sudan. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko kesehatan publik.
Konflik yang meluas telah memaksa lebih dari enam juta orang mengungsi, sekaligus mengganggu pendidikan dan mata pencaharian di seluruh negeri. Dampak sosial‑ekonomi semakin memperparah kerentanan penduduk.
Komunitas internasional menyerukan penghentian segera permusuhan untuk melindungi warga sipil dan layanan esensial. Tanpa langkah konkrit, penderitaan manusia diprediksi akan terus meningkat.
Sementara tragedi ini masih berkembang, rakyat Sudan menghadapi masa depan yang tidak pasti di tengah kekerasan yang terus berlanjut. Harapan akan perdamaian tetap menjadi tujuan utama bagi banyak pihak.
Kondisi kemanusiaan tetap kritis, menuntut respons terkoordinasi dari seluruh dunia guna mencegah kehilangan nyawa lebih lanjut. Upaya bersama menjadi kunci untuk mengatasi krisis kesehatan yang mendalam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan