Media Kampung – 23 Maret 2026 | Harga minyak Brent menyentuh USD 112,11 per barel pada Senin 23 Maret 2026, mencatat level tertinggi dalam empat tahun terakhir setelah serangan kapal di Selat Hormuz meningkatkan ketegangan perdagangan minyak global.

Harga Brent hanya terkoreksi tipis 8 sen, sementara WTI berada di USD 98,17 per barel, menciptakan spread lebih dari USD 14, jarak terlebar beberapa tahun terakhir.

Serangan di Selat Hormuz dan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menutup pembangkit listrik Iran memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan, sementara Iran memperingatkan potensi kerusakan infrastruktur energi di seluruh Timur Tengah.

Analisis pasar memperkirakan kehilangan 7 hingga 10 juta barel minyak harian akibat penurunan produksi Irak dan status force majeure yang diberlakukan pada ladang minyak asing.

Michael McCarthy, kepala riset Moomoo Australia, menilai penurunan tipis sebagai aksi ambil untung jangka pendek dan memprediksi Brent akan menguji kembali level USD 120 per barel dalam minggu ini.

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas, memperkirakan Brent dapat berfluktuasi antara USD 110‑116 pada pekan depan, dipicu oleh ketegangan di Iran dan Irak.

Kenaikan harga Brent secara langsung menaikkan biaya avtur, yang berpotensi menambah beban biaya transportasi penerbangan dan mempercepat inflasi sektor terkait.

Investor beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven, menyebabkan harga emas sedikit melorot karena pergeseran alokasi modal.

Konflik yang meluas antara Israel‑AS dan Iran, serta serangan Rusia terhadap fasilitas gas di Ukraina, menambah tekanan pada pasar energi dan memperkuat ekspektasi kenaikan harga minyak serta gas alam.

Trader kini melakukan profit taking, namun momentum pasar tetap mengarah naik, didorong oleh kekhawatiran atas kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut.

Para analis memperingatkan volatilitas tinggi akan terus berlanjut, dan jika ketegangan di Selat Hormuz tidak mereda, harga Brent berpotensi menembus ambang USD 120.

Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik, gangguan pasokan, dan ekspektasi pasar menegaskan bahwa harga minyak dunia berada pada level kritis yang dapat memengaruhi ekonomi global dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.