Media Kampung – 22 Maret 2026 | Israel dan Iran saling meluncurkan serangan balasan yang menargetkan sejumlah fasilitas minyak dan gas strategis di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.

Serangan ini menambah ketegangan regional dan mengancam pasokan energi global.

Pada 20 Maret, Israel menembakkan rudal ke ladang gas South Pars milik Iran, fasilitas terbesar yang menghasilkan lebih dari 30 persen produksi gas negara tersebut dan berada di Teluk Persia serta melayani lebih dari 60 negara.

Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan pada beberapa sumur produksi utama.

Iran menanggapi dengan meluncurkan serangan ke fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar, yang memproses sekitar 20 persen pasokan LNG dunia dan juga merupakan hub utama bagi perusahaan energi Eropa.

Kerusakan pada instalasi pemisahan dan penyimpanan diperkirakan membutuhkan bertahun‑tahun untuk dipulihkan.

Serangan selanjutnya terjadi di pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah, yang menjadi titik transit minyak setelah penutupan Selat Hormuz dan selama ini menjadi jalur alternatif bagi eksportir minyak Timur Tengah.

Infrastruktur penyimpanan dan terminal pengeboran mengalami kerusakan struktural akibat rudal balistik.

Pada 21 Maret, sebuah rudal Iran menghantam kota Dimona di Israel, tempat terletak fasilitas nuklir penting, yang memicu evakuasi massal dan menurunkan tingkat operasi fasilitas tersebut.

Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut sebagai balasan atas serangan Israel ke kompleks pengayaan Natanz di Iran pada pekan sebelumnya.

Israel menegaskan bahwa serangan itu bersifat defensif dan tidak menargetkan warga sipil.

Daftar titik minyak dan gas yang menjadi fokus serangan meliputi: ladang gas South Pars (Iran), instalasi LNG Ras Laffan (Qatar), terminal ekspor minyak Yanbu (Arab Saudi), serta fasilitas pemurnian di Al Khurmah (Kuwait), semua lokasi berada dalam radius 500 km dari perbatasan konflik dan memiliki kapasitas produksi gabungan mencapai 12 juta barel per hari.

Selain itu, Iran menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di Bahrain dan kilang di Uni Emirat Arab, yang diperkirakan mengandung stok cadangan sebesar 1,2 juta barel.

Kebocoran minyak ringan tersebut menimbulkan tumpahan di perairan selatan Bahrain, menambah risiko lingkungan, dan serangan tersebut menimbulkan kebocoran minyak ringan serta memicu kebakaran di area pelabuhan.

Israel juga meluncurkan serangan udara ke wilayah Teluk Persia, menargetkan instalasi pemrosesan gas di zona Ekspansi Pipa Iran‑Iraq, yang menghubungkan lapangan gas Kirkuk ke pasar internasional.

Kerusakan pada jaringan pipa dapat memotong pasokan gas hingga 5 juta metrik ton per tahun dan potensi gangguan pasokan gas ini dapat memengaruhi harga listrik di kawasan Timur Tengah dan Eropa.

Badan intelijen militer kedua negara melaporkan penggunaan drone dan misil jelajah berpresisi, yang memungkinkan penyerangan titik‑titik kritis tanpa menimbulkan kerusakan meluas pada populasi sipil.

Namun, serangan pada Arad menunjukkan risiko serpihan jatuh ke area pemukiman.

Respons internasional menyoroti potensi krisis energi; negara‑negara Eropa dan Jepang mengumumkan peningkatan stok strategis minyak serta mempercepat diversifikasi pasokan.

Amerika Serikat menyatakan kesediaan menurunkan pasokan minyak cadangan strategis jika diperlukan, langkah tersebut dimaksudkan untuk menstabilkan pasar sekaligus memberi ruang bagi diplomasi.

Para analis menilai bahwa penargetan fasilitas energi meningkatkan tekanan pada pasar global, memperkirakan kenaikan harga minyak mentah sebesar 8‑10 persen dalam jangka pendek.

Skenario terburuk melibatkan gangguan alur transportasi di Selat Hormuz selama beberapa bulan dan jika gangguan berlanjut, lembaga energi memperkirakan penurunan pasokan global hingga 2,5 juta barel per hari.

Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi militer akan berlanjut hingga tujuan strategis tercapai, sementara pejabat Iran menyatakan tidak akan mundur meski tekanan diplomatik meningkat.

Kedua belah pihak mengklaim tindakan mereka sah untuk melindungi keamanan nasional dan juga menuduh pihak lain melakukan interferensi dalam urusan internal masing‑masing.

Masyarakat internasional menyerukan gencatan senjata dan dialog multilateral untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat melumpuhkan jaringan energi dunia.

PBB mengundang pertemuan darurat Dewan Keamanan minggu depan, jika tidak ada penyelesaian, risiko pemadaman listrik di wilayah Teluk dapat meningkat.

Hingga kini, kerusakan pada fasilitas minyak dan gas di wilayah tersebut diperkirakan menelan biaya rekonstruksi lebih dari 3 miliar dolar AS, serta menambah beban ekonomi pada negara‑negara produksi.

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda berkurang, negara‑negara konsumen energi dipaksa menyesuaikan strategi cadangan dan diversifikasi sumber.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.