Media Kampung – 22 Maret 2026 | Donald Trump mengkritik keras aliansi NATO pada Jumat 20 Maret 2026, menyebutnya pengecut karena tidak memberikan dukungan yang cukup dalam konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran.
Kritik itu dipublikasikan lewat akun media sosial pribadinya, Truth Social.
Trump berpendapat NATO tidak berdaya tanpa intervensi militer AS, menambahkan “tanpa AS, NATO hanyalah macan kertas”.
Pernyataan tersebut muncul setelah serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan itu memicu balasan Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Penutupan selat menimbulkan kekhawatiran pasar global akan kenaikan harga energi.
Trump menuduh sekutu‑sekutu NATO menolak membantu membuka selat, meski mereka mengeluhkan dampak kenaikan harga minyak.
Ia menulis, “Mereka mengeluh tentang harga minyak yang tinggi, padahal membuka selat adalah operasi militer yang sangat mudah dengan risiko minimal.”
Dalam rangka menanggapi situasi, beberapa negara Eropa mengeluarkan pernyataan bersama pada 19 Maret, termasuk Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Belanda, Jepang, dan Kanada.
Mereka berjanji mendukung upaya memastikan jalur pelayaran aman, namun menekankan bahwa bantuan militer tidak akan diberikan sebelum konflik berakhir.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa komitmen Jerman akan bersifat kondisional, bergantung pada penyelesaian pertempuran.
“Kami siap membantu setelah perdamaian tercapai,” ujarnya dalam konferensi pers di Berlin.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menambahkan bahwa prioritas utama Uni Eropa adalah menegakkan hukum internasional dan mendorong de‑eskalasi.
“Saya belum mendengar siapa pun yang bersedia masuk ke dalam konflik ini,” katanya di Brussels setelah pertemuan puncak Uni Eropa.
Trump menanggapi komentar sekutu dengan nada sinis, menyebut mereka “pengecut” dan menegaskan Amerika Serikat akan selalu mengingat sikap tersebut.
Ia menambahkan bahwa AS tetap siap membuka Selat Hormuz untuk menstabilkan harga minyak.
Konflik yang berawal dari serangan AS‑Israel menewaskan ribuan warga sipil di Iran dan Lebanon, serta memicu jutaan orang mengungsi.
Dampak kemanusiaan memperburuk tekanan internasional untuk menemukan solusi diplomatik.
Pasar minyak global mengalami fluktuasi tajam setelah penutupan Hormuz, dengan harga Brent naik lebih dari $10 per barel dalam dua hari pertama.
Pedagang mengaitkan kenaikan tersebut dengan ketidakpastian militer di kawasan Teluk.
Sebagai respons, Amerika Serikat mengerahkan kapal perang tambahan ke perairan internasional di sekitar Selat Hormuz, menegaskan hak kebebasan navigasi.
Pentagon menyatakan operasi tersebut bersifat pertahanan, bukan agresi.
NATO secara resmi menolak tuduhan Trump bahwa aliansinya “tidak berdaya”, menyatakan kesiapan kolektif untuk melindungi jalur perdagangan penting.
Sekretaris Jenderal aliansi menekankan bahwa keputusan militer harus didasarkan pada konsensus anggota.
Analis keamanan regional menilai bahwa penutupan Hormuz memberi Iran leverage politik, namun risiko eskalasi militer dapat memperluas konflik ke negara‑negara lain.
Mereka memperingatkan bahwa setiap tindakan militer tambahan dapat memicu balasan yang tidak terkendali.
Pemerintah Indonesia memantau situasi dengan cermat, mengingat kepentingan ekspor minyak nasional dan keamanan pelayaran.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menegaskan bahwa Indonesia siap membantu upaya multilateral untuk menjaga kebebasan laut.
Sementara itu, pertemuan puncak G20 di New Delhi menunda diskusi khusus tentang krisis Hormuz, namun menyoroti perlunya koordinasi ekonomi global.
Delegasi AS menekankan pentingnya membuka selat secepatnya demi stabilitas pasar.
Pada akhir pekan, Trump menutup pernyataannya dengan menegaskan kembali komitmen AS untuk menegakkan keamanan maritim, sambil menuduh NATO “selalu menunggu perintah”.
Ia menambahkan, “Kami tidak akan membiarkan sekutu kami bersembunyi di belakang kata‑kata kosong.”
Konflik di Timur Tengah masih belum menemukan titik akhir, dan situasi di Selat Hormuz tetap menjadi faktor penentu harga energi dunia.
Semua pihak tampak menunggu langkah selanjutnya yang dapat meredakan ketegangan atau memicu eskalasi lebih lanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan