Media Kampung – 21 Maret 2026 | Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menerima pertanyaan tak terduga dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pertemuan bilateral di Gedung Putih, 19 Maret 2026, ketika Trump membandingkan operasi militer AS‑Israel di Iran dengan serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 1941.

Trump menegaskan, “Kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih paham soal kejutan selain Jepang? Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?” pernyataan itu disampaikan kepada wartawan setelah diskusi kebijakan luar negeri.

Takaichi tampak terkejut, menahan jeda singkat tanpa memberikan jawaban verbal, sementara penerjemahnya mencatat nada diplomatisnya. Yuta Nakamura, insinyur berusia 33 tahun dari Tokyo, menilai bahwa Takaichi berada dalam posisi sulit dan berhasil menjaga situasi tetap tenang tanpa menyinggung Presiden.

Reaksi tersebut mengingatkan pada episode sejarah Jepang pada Juli 1944, saat Perdana Menteri militer Hideki Tojo mengundurkan diri setelah kekalahan besar di Kepulauan Mariana, khususnya di Saipan, yang menandai titik balik dalam Perang Dunia II.

Tojo, yang menjabat sejak Oktober 1941, memimpin serangan mendadak ke pangkalan militer AS di Pearl Harbor, memicu keterlibatan Amerika Serikat dalam perang. Keputusan untuk bergabung dengan Pakta Tripartit bersama Jerman dan Italia serta meluncurkan ide “New Order” di Asia memperluas wilayah kekuasaan Jepang hingga Filipina dan Indonesia.

Kekalahan di Mariana, terutama pada Juni 1944, menghancurkan pasukan Jepang dengan ribuan korban tewas dan bunuh diri, memaksa Tojo menyerahkan jabatan pada Juli 1944 meski Jepang belum menyerah secara resmi. Kejadian ini tetap menjadi titik sensitif dalam ingatan kolektif Jepang tentang masa perang.

Hubungan Amerika Serikat‑Jepang kini bertransformasi menjadi aliansi strategis, namun referensi ke Pearl Harbor tetap menjadi isu sensitif. Seorang pensiunan bernama Tokio Washino menyatakan ketidaknyamanan atas perbandingan Trump, menekankan bahwa mengangkat kembali peristiwa 1941 dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi warga Jepang.

Meski demikian, Takaichi, yang dikenal dengan pandangan nasionalis dan pernah menekankan posisi defensif Jepang, menanggapi secara tenang, menegaskan komitmen Jepang untuk memperkuat kerja sama keamanan dengan Washington sambil menghormati sejarah. Pernyataan Trump memicu diskusi diplomatik tentang batasan lelucon dalam konteks historis, menegaskan bahwa Jepang tetap berusaha menjaga hubungan konstruktif dengan sekutunya sambil mengelola warisan masa lalu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.