Media Kampung – 20 Maret 2026 | Korea Selatan berencana menandatangani kesepakatan ekspor enam belas unit jet tempur KF‑21 Boramae ke Indonesia. Kesepakatan itu diharapkan menjadi penjualan pertama pesawat tempur buatan Korea ke luar negeri.

Negosiasi diperkirakan selesai pada kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul pada akhir Maret hingga awal April. Kedua pemerintah akan menetapkan harga dan syarat transfer teknologi dalam kontrak final semester pertama 2026.

KF‑21, yang dikembangkan sejak 2015 oleh Korea Aerospace Industries (KAI), dirancang sebagai jet supersonik generasi 4+ untuk menggantikan F‑4 dan F‑5 buatan Amerika. Prototipe keempat (XFB1) telah berhasil diuji di pangkalan Sacheon pada Juni 2023 tanpa insiden.

Indonesia sebelumnya berkomitmen menanggung sekitar 20 % biaya program hingga Juni 2026 sebagai mitra teknologi. Namun pembayaran terjadwal tidak terpenuhi, memicu renegosiasi kontribusi finansial.

Pada Juni 2025 kedua negara menandatangani perjanjian yang menurunkan kontribusi Indonesia menjadi 600 miliar won, sekitar sepertiga nilai awal. Penurunan ini disertai permintaan pengurangan tingkat transfer teknologi.

Polisi Korea juga membuka penyelidikan atas dugaan pencurian data oleh insinyur Indonesia di KAI. Kasus tersebut menambah ketegangan dalam hubungan industri pertahanan kedua negara.

Meskipun begitu, pihak KAI menegaskan kesiapan produksi massal KF‑21 dan target pengiriman batch pertama pada semester kedua 2026. Badan Pengadaan Senjata Nasional Indonesia (BAES) telah menyiapkan anggaran untuk menerima pesawat tersebut.

Pemerintah Indonesia menganggap KF‑21 sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian udara. Jet tersebut diproyeksikan mendukung operasi udara taktis serta melindungi wilayah udara nusantara.

“Ekspor ini menandai tonggak penting bagi industri pertahanan Korea dan Indonesia,” ujar Letnan Kolonel Ferrel “Venom” Rigonald, pilot TNI AU yang pernah menguji prototipe. Ia menambahkan bahwa kerjasama ini membuka peluang lebih luas bagi transfer pengetahuan.

Sementara itu, KAI menekankan bahwa teknologi yang akan dibagikan meliputi sistem avionik, bahan komposit, dan modul mesin. Transfer tersebut diharapkan berlangsung secara bertahap selama tiga tahun pertama.

Pemerintah Korea menilai proyek ini dapat meningkatkan volume produksi KAI serta menstimulasi ekspor senjata ke pasar Asia. Diperkirakan nilai total kontrak mencapai sekitar 6,7 triliun rupiah.

Indonesia menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas perawatan di pangkalan Halim Perdanakusuma. Tim teknis TNI AU telah menjalani pelatihan dasar di Korea sejak awal 2025.

Penandatanganan resmi diperkirakan akan dilaksanakan di Istana Kepresidenan Seoul pada hari pertama kunjungan Prabowo. Upacara tersebut akan dihadiri pejabat tinggi pertahanan kedua negara.

Kesepakatan ini juga mencakup opsi pembelian suku cadang dan layanan purna jual selama lima tahun. Hal tersebut dianggap penting untuk menjaga kesiapan operasional jet di lingkungan tropis.

Analisis para pakar pertahanan menunjukkan bahwa KF‑21 dapat bersaing dengan jet regional seperti F‑16 dan J‑10. Keunggulan utama terletak pada kemampuan manuver tinggi dan radar berkemampuan jaringan.

Namun, kritikus mengingatkan bahwa biaya operasional dan pelatihan pilot akan menambah beban anggaran TNI AU. Pemerintah Indonesia menyatakan akan mengalokasikan dana tambahan melalui APBN 2027.

Pada sisi Korea, program KF‑21 diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan varian siluman di masa depan. KAI berencana menambahkan modul stealth pada varian berikutnya.

Kerjasama ini juga diharapkan memperkuat hubungan ekonomi bilateral yang telah meluas ke sektor energi dan teknologi. Bilateral trade antara kedua negara diperkirakan mencapai 20 miliar dolar pada 2026.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa proyek ini tidak akan mengganggu prioritas pembelian pesawat lain seperti F‑35. KF‑21 dipandang sebagai platform menengah yang melengkapi armada yang ada.

Sejumlah analis menilai bahwa keberhasilan ekspor ini dapat membuka pasar Asia Tenggara bagi produk KAI. Negara seperti Filipina dan Thailand telah menunjukkan minat pada varian serupa.

Sementara proses administrasi masih berlangsung, KAI telah menyiapkan rantai pasok lokal untuk komponen kritis. Ini termasuk pemasok material komposit dari perusahaan Indonesia yang telah lolos audit kualitas.

Pemerintah Korea menambahkan bahwa semua transaksi akan mematuhi regulasi kontrol ekspor yang ketat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyalahgunaan teknologi militer.

TNI AU menjadwalkan serangkaian uji operasional pada akhir 2026 untuk menilai performa KF‑21 di kondisi iklim tropis. Hasil uji tersebut akan menjadi dasar penyesuaian taktik penerbangan.

Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, Indonesia akan mengoperasikan enam belas jet KF‑21 pada pertengahan 2027. Kehadiran pesawat ini diharapkan meningkatkan deterrence regional.

Kesepakatan ekspor ini menandai langkah maju dalam upaya kemandirian pertahanan kedua negara sekaligus mempererat ikatan strategis Asia‑Pasifik. Kedepannya, kedua pihak berkomitmen mengembangkan proyek bersama yang lebih ambisius.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.