Media Kampung – 12 Maret 2026 | Jakarta – Empat kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang beroperasi di kawasan Timur Tengah kini menjadi sorotan dunia setelah dua di antaranya masih terperangkap di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Kondisi ini menambah ketegangan maritim yang telah memuncak sejak awal Maret 2026, ketika sebuah kapal kontainer dilaporkan diserang proyektil di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab.
Situasi terkini kapal-kapal Pertamina
Menurut pernyataan resmi PIS yang disampaikan oleh Corporate Secretary Vega Pita, dua kapal tanker – VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro – masih berada di Teluk Arab (Gulf of Oman) menunggu kondisi aman untuk melintasi Selat Hormuz. Kedua unit ini mengangkut minyak mentah ringan yang penting untuk memenuhi kebutuhan energi domestik Indonesia.
Sementara itu, dua kapal lainnya, PIS Rinjani dan PIS Paragon, telah berhasil keluar dari zona konflik dan kini berlayar di perairan internasional tanpa melewati Selat Hormuz.
Penyebab penahanan
Penahanan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan koalisi Barat, khususnya setelah serangan proyektil terhadap kapal kontainer di lepas pantai Ras Al‑Khaimah, UEA. Iran mengklaim kontrol penuh atas Selat Hormuz dan mengeluarkan peringatan militer kepada kapal-kapal asing yang melintasi wilayah tersebut. Lembaga keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mengonfirmasi bahwa para nakhoda melaporkan ancaman serangan, sehingga otoritas maritim setempat mengimbau semua armada untuk meningkatkan kewaspadaan.
Dampak terhadap pasokan energi Indonesia
Meski dua kapal masih terperangkap, Pertamina menegaskan bahwa rantai pasok energi nasional tetap solid. Seluruh armada Pertamina Group, yang mencakup lebih dari 345 kapal, terus beroperasi baik di perairan internasional maupun perairan domestik. Sistem koordinasi “Regular, Alternative and Emergency” diterapkan untuk memastikan suplai BBM tidak terganggu.
- Pertamina Pride – VLCC 300,000 DWT, mengangkut light crude oil untuk pasar domestik.
- Gamsunoro – VLCC 250,000 DWT, melayani kargo pihak ketiga.
- PIS Rinjani – Aframax, sudah keluar dari zona konflik.
- PIS Paragon – Suezmax, juga telah melanjutkan pelayaran ke tujuan akhir.
Vega menambahkan bahwa kedua kapal yang masih berada di Selat Hormuz berada dalam kondisi aman, dengan kru dan muatan terpantau secara real‑time 24/7. PIS terus berkoordinasi dengan otoritas maritim Indonesia serta otoritas internasional untuk menjamin keamanan kapal dan personelnya.
Reaksi pemerintah dan industri
Kementerian Energi Republik Indonesia menyatakan kesiapan untuk menyalurkan cadangan strategis minyak bumi (Strategic Petroleum Reserve) bila terjadi gangguan signifikan pada aliran minyak. Sementara itu, asosiasi pengusaha pelayaran Indonesia (APPI) meminta negara‑negara terkait untuk menurunkan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz demi stabilitas pasar energi global.
Harga minyak mentah dunia sempat melambung hingga US$120 per barrel setelah insiden di Selat Hormuz, namun kemudian turun kembali ke kisaran US$84 berkat pelepasan cadangan oleh G7 dan penurunan ketegangan sementara.
Dengan dua kapal tanker Pertamina masih tertahan, Indonesia tetap mengandalkan diversifikasi sumber energi, termasuk peningkatan import LNG dan pengembangan energi terbarukan, untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Situasi ini mencerminkan betapa rapuhnya jalur transportasi energi global dan pentingnya kerjasama internasional dalam menjaga keamanan maritim. Pertamina berkomitmen terus memantau perkembangan dan akan mengambil langkah strategis bila diperlukan demi melindungi kepentingan energi bangsa.


Tinggalkan Balasan