Perundingan AS-Iran terbaru kembali membuka peluang meredakan krisis nuklir yang telah lama membayangi Timur Tengah. Dalam putaran yang digelar di Jenewa melalui mediasi Oman, Iran menilai pembicaraan berlangsung lebih konstruktif dibandingkan pertemuan sebelumnya, meski belum menghasilkan kesepakatan final.

Perundingan yang berlangsung sekitar tiga setengah jam itu berfokus pada syarat pembatasan program nuklir Iran di bawah pengawasan badan inspeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni International Atomic Energy Agency (IAEA). Delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Usai pertemuan, Araghchi menyampaikan bahwa kedua pihak telah menyepakati prinsip-prinsip panduan umum sebagai dasar pembahasan lanjutan. Ia menilai suasana dialog lebih konstruktif dan terdapat kemajuan dibanding putaran pertama pada 6 Februari. Meski demikian, ia mengingatkan proses menuju kesepakatan masih membutuhkan waktu karena perbedaan posisi yang belum sepenuhnya terjembatani. Tahap berikutnya direncanakan berupa pertukaran draf teks sebelum penentuan jadwal pertemuan lanjutan.

Belum ada pernyataan resmi dari delegasi Amerika Serikat. Namun, di tengah proses diplomasi, Washington disebut tetap melanjutkan pengerahan kekuatan militernya di kawasan Teluk menjelang putaran berikutnya yang dijadwalkan sekitar dua pekan mendatang.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan yang dinilai kontradiktif. Di satu sisi ia meyakini Iran menginginkan kesepakatan, tetapi di sisi lain menegaskan peningkatan kehadiran armada laut AS di sekitar Teluk.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei merespons pengerahan kapal perang AS di lepas pantai Oman dengan pernyataan tegas bahwa negaranya tidak akan dapat dihancurkan. Ia juga menekankan Iran tidak akan terlibat dalam perundingan yang sejak awal mengharuskan pelarangan total energi nuklir, serta mengisyaratkan kesiapan mempertahankan diri.

Iran tetap bersikukuh tidak akan membahas program rudal balistik maupun dukungannya terhadap kelompok sekutu di kawasan. Dalam forum PBB, Araghchi menegaskan Iran tidak mencari senjata nuklir dan siap bekerja sama dengan IAEA dalam proses verifikasi.

Sebagai bagian dari tawaran, Teheran mengusulkan pengenceran stok sekitar 40 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen serta membuka akses bagi IAEA ke fasilitas nuklir yang rusak akibat pemboman. Uranium dengan tingkat pengayaan tersebut mendekati kualitas senjata dan tidak diperlukan untuk program sipil.

Isu lain yang dibahas mencakup durasi penangguhan pengayaan uranium. Namun Iran menolak melepaskan haknya untuk memperkaya uranium di dalam negeri, yang menjadi salah satu tuntutan utama Washington. Setiap kesepakatan nantinya akan mensyaratkan kembalinya penuh para inspektur IAEA ke fasilitas nuklir Iran.

Di tengah dinamika diplomasi, Iran juga mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz untuk latihan tembak langsung angkatan laut. Jalur sempit tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia, sehingga potensi penutupan penuh dapat berdampak besar pada perdagangan global.

Situasi domestik Iran turut memengaruhi atmosfer politik. Ribuan warga menghadiri peringatan 40 hari korban gelombang protes terbaru, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian terlihat menghadiri upacara di Mashhad.

Perundingan ini menjadi ujian diplomasi di tengah tekanan geopolitik dan dinamika internal kedua negara. Meski belum menghasilkan terobosan, kedua pihak disebut sepakat bahwa jalur dialog tetap terbuka.