Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di tengah meningkatnya ketegangan kawasan menyusul kehadiran kapal induk Amerika Serikat di Timur Tengah. Komunikasi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran akan pecahnya konflik baru yang melibatkan Iran, Israel, dan Washington.

Percakapan itu terjadi setelah Amerika Serikat mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington mengisyaratkan tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran menyusul tindakan keras pemerintah Teheran terhadap demonstrasi antipemerintah yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, meski menyatakan harapannya agar langkah tersebut tidak perlu dilakukan.

Dalam komunikasi telepon yang berlangsung pada Selasa (27/01/2026), Pezeshkian menyampaikan kritik terhadap apa yang disebutnya sebagai ancaman dari Amerika Serikat. Berdasarkan pernyataan resmi kepresidenan Iran, ia menilai tekanan tersebut bertujuan mengganggu stabilitas kawasan dan justru berpotensi memperparah ketidakamanan regional.

Pezeshkian juga menyinggung tekanan ekonomi dan campur tangan eksternal yang diarahkan kepada Iran. Ia menegaskan bahwa berbagai upaya tersebut tidak berhasil melemahkan ketahanan maupun kesadaran masyarakat Iran.

Sementara itu, Mohammed bin Salman menyambut baik dialog tersebut dan menegaskan komitmen Arab Saudi untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan pembangunan kawasan. Putra Mahkota Saudi itu juga menekankan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Islam serta menyampaikan penolakan Riyadh terhadap segala bentuk agresi dan eskalasi terhadap Iran.

Dalam pembicaraan tersebut, Arab Saudi menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Kontak langsung antara Teheran dan Riyadh ini terjadi setelah Trump berulang kali melontarkan ancaman serangan terhadap Iran di tengah gelombang penindakan berdarah terhadap aksi protes antipemerintah. Pekan lalu, Trump menyebut telah mengirim armada militer ke arah Iran, meski berharap kekuatan tersebut tidak harus digunakan.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perang baru, seorang pejabat Garda Revolusi Iran turut menyampaikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga. Wakil politik angkatan laut IRGC Mohammad Akbarzadeh menyatakan bahwa negara-negara di sekitar Iran dianggap sahabat, namun akan dipandang bermusuhan jika wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Ketegangan di kawasan telah memburuk sejak Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran yang menargetkan pejabat militer senior, ilmuwan nuklir, serta fasilitas nuklir. Amerika Serikat kemudian terlibat langsung dalam konflik selama 12 hari dengan membombardir tiga lokasi nuklir Iran.

Konflik tersebut terjadi menjelang rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran. Namun sejak perang itu berakhir, pembicaraan belum kembali digelar. Trump terus menuntut Iran untuk membongkar program nuklirnya dan menghentikan pengayaan uranium.

Pada Senin, seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan Washington masih membuka peluang dialog dengan Iran, seraya menegaskan bahwa Teheran mengetahui syarat-syarat yang diajukan. Namun peluang tercapainya kesepakatan dinilai kecil.

Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kemungkinan Iran memenuhi tuntutan Amerika Serikat sangat kecil. Menurutnya, para pemimpin Iran meyakini bahwa kompromi di bawah tekanan justru akan memicu tekanan yang lebih besar.

Di sisi lain, Iran menegaskan akan memberikan balasan jika diserang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memperingatkan bahwa dampak serangan terhadap Iran tidak akan terbatas pada satu negara saja, melainkan berpotensi menyebar ke seluruh kawasan.(balqis)