Pengadilan distrik Tel Aviv mengabulkan permintaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menunda persidangan kasus korupsi yang semestinya digelar pada Selasa (2/12/2025) waktu setempat. Permintaan tersebut diajukan dengan alasan adanya urusan keamanan yang tidak dijelaskan rinci, sebagaimana diberitakan media lokal Israel pada Rabu (2/12/2025).

Jaksa penuntut disebut tidak menyatakan keberatan, sehingga majelis hakim memutuskan membatalkan jadwal sidang hari itu. Penundaan tersebut terjadi berselang satu hari setelah Netanyahu untuk pertama kalinya muncul di ruang sidang sejak ia meminta pengampunan penuh kepada Presiden Israel Isaac Herzog.

Kehadiran Netanyahu di pengadilan pada Senin (1/12/2025) memicu aksi protes kecil di luar gedung pengadilan. Sejumlah demonstran memakai kostum tahanan berwarna oranye dan menuntut agar perdana menteri yang menjabat sejak 2009 itu dijebloskan ke penjara. Mereka menilai permohonan pengampunan Netanyahu tidak etis karena dia tidak pernah mengakui kesalahan atau mengambil tanggung jawab atas dakwaan yang menjeratnya.

Pengajuan pengampunan yang disampaikan pada Minggu (30/11/2025) itu berisi alasan bahwa intensitas persidangan menghambat tugas Netanyahu dalam memimpin negara. Dalam suratnya, ia melalui pengacara menyebut pemberian pengampunan justru dinilai sebagai langkah terbaik bagi Israel.

Namun, proses pengampunan di Israel lazimnya dilakukan setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Hingga saat ini tidak ada preseden seorang terdakwa meminta pengampunan saat persidangan masih berlangsung.

Netanyahu diketahui telah beberapa kali berupaya menunda atau mempercepat proses sidangnya dengan berbagai alasan, termasuk agenda diplomatik, urusan politik, dan situasi perang Israel di Gaza.

Ada tiga kasus korupsi besar yang menjeratnya. Kasus 1000 berkaitan dengan dugaan penerimaan hadiah mewah berupa sampanye dan cerutu dari pengusaha sebagai imbalan bantuan politis. Kasus 2000 menyangkut dugaan kesepakatan dengan penerbit Yedioth Ahronoth untuk memperoleh pemberitaan yang lebih menguntungkan. Sementara kasus 4000 dianggap paling serius, karena Netanyahu dituduh memberikan keuntungan regulasi kepada pemilik Bezeq dan portal berita Walla demi liputan positif.

Netanyahu terus membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa proses hukum yang dihadapinya bermotif politik. Namun gelombang kritik dari publik terus meningkat, dan Presiden Herzog disebut sedang mempertimbangkan dengan sangat hati-hati permohonan pengampunan tersebut. (putri).