Dunia hiburan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh karya di layar kaca dan panggung musik. Sejumlah artis memilih buku sebagai medium untuk menuturkan perjalanan hidup secara lebih personal dan reflektif. Lewat tulisan, para figur publik ini membagikan kisah yang sering kali tak terlihat publik, mulai dari luka masa lalu, proses pendewasaan diri, hingga pencarian makna hidup.
Fenomena artis Indonesia menulis kisah hidup dalam bentuk buku semakin mendapat tempat di hati pembaca. Tak sedikit karya yang justru menjadi perbincangan luas dan menembus daftar buku terlaris. Cerita yang dituturkan pun beragam, dari memoar traumatis hingga kisah cinta dan refleksi kehidupan yang relevan bagi banyak orang.
Salah satu yang belakangan menyita perhatian adalah Aurelie Moeremans. Lewat buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie membuka pengalaman kelam yang ia alami sejak remaja. Ia menceritakan relasi tidak sehat yang bermula dari proses grooming dan berujung pada tekanan emosional berkepanjangan. Buku tersebut ditulis sebagai upaya penyembuhan diri sekaligus pengingat akan pentingnya perlindungan bagi remaja. Respons publik pun luas, dengan banyak pembaca menilai buku ini berani dan membuka diskusi penting soal kekerasan emosional.
Nama Maudy Ayunda juga tak lepas dari daftar artis yang menulis kisah hidup. Pada 2018, ia merilis Dear Tomorrow, buku berbahasa Inggris yang berisi esai personal, refleksi hidup, hingga potongan pemikiran tentang mimpi dan kegelisahan generasi muda. Buku ini mendapat sambutan besar dan habis terjual dalam waktu singkat saat masa prapemesanan. Lewat tulisannya, Maudy menghadirkan sisi intelektual dan reflektif yang dekat dengan pembaca muda.
Kisah cinta juga menjadi tema yang kuat dalam buku karya Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Melalui #TemanTapiMenikah, pasangan ini membagikan perjalanan hubungan mereka dari sahabat hingga menjadi suami istri. Kejujuran dan kehangatan cerita membuat buku ini menjadi mega best seller dan melahirkan beberapa sekuel. Popularitasnya bahkan berlanjut ke layar lebar, menandakan kuatnya daya tarik kisah personal yang dituturkan apa adanya.
Natasha Rizky turut menuangkan pengalamannya dalam buku Katanya Nikah Muda(h). Ia mengisahkan perjalanan membangun rumah tangga di usia muda, sekaligus menepis anggapan bahwa pernikahan dini selalu berujung kegagalan. Buku ini ditulis dengan gaya ringan dan reflektif, menyentuh isu keseimbangan peran sebagai istri, ibu, dan perempuan yang tetap berkarya.
Sementara itu, Roy Kiyoshi memilih jalur yang berbeda lewat buku Indigo: The Story of Roy Kiyoshi. Ia menceritakan perjalanan hidup sebagai seorang indigo, termasuk pengalaman spiritual yang membentuk kepribadiannya. Lewat kisah tersebut, Roy ingin mengajak pembaca untuk berani menerima keunikan diri dan tidak takut menjalani jalan hidup yang berbeda.
Meira Anastasia, istri komika Ernest Prakasa, menulis Imperfect sebagai ruang refleksi atas pengalaman menerima komentar negatif soal penampilan fisik. Buku ini mengangkat isu body positivity dan penerimaan diri, dengan pesan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh standar orang lain. Kisah tersebut kemudian diadaptasi menjadi film yang sukses secara komersial dan mendapat respons positif dari publik.
Kehadiran buku-buku karya artis Indonesia menunjukkan bahwa kisah hidup selebritas tak selalu tentang gemerlap popularitas. Di baliknya, tersimpan cerita manusiawi yang dekat dengan realitas banyak orang. Itulah yang membuat buku-buku ini tetap relevan, bahkan bagi pembaca yang bukan penggemar sang artis


















Tinggalkan Balasan