Sidang lanjutan sengketa hukum antara mantan CEO ADOR, Min Hee-jin, dan perusahaan induknya, HYBE, kembali memanas pada Kamis (27/11/2025) di Pengadilan Distrik Pusat Seoul. Dalam sesi kesaksian yang berlangsung lebih dari lima jam, Min tampak beberapa kali menahan tangis ketika menguraikan apa yang ia sebut sebagai “pengkhianatan” dari pihak HYBE.

Min menjelaskan bahwa ia tidak pernah membayangkan perusahaan yang menaungi ADOR itu akan merusak pekerjaan kreatifnya bersama NewJeans. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang lebih mengutamakan kualitas dan reputasi ketimbang keuntungan finansial. Dalam penuturannya, Min mengatakan bahwa Chairman HYBE, Bang Si-hyuk, pada awalnya menginginkan ia menjalankan ADOR tanpa kepemilikan saham sebagai imbalan menerima trainee, sebelum akhirnya setuju pada opsi saham yang ditawarkan.

Sidang ketiga ini berfokus pada upaya Min membatalkan pemutusan perjanjian pemegang saham dengan HYBE, sekaligus menuntut agar perusahaan menghormati put option-nya yang ditaksir bernilai sekitar 26 miliar won atau Rp294 miliar. Put option tersebut semestinya menjadi perlindungan finansial apabila hubungan kerja memburuk.

Dalam kesaksiannya, Min menyebut ketegangan internal mulai terasa setelah NewJeans meraih kesuksesan besar. Ia menilai tim PR HYBE gagal memberikan promosi yang layak, sementara tim iklan disebut mencoba mengalihkan tawaran komersial bernilai besar ke label lain. Divisi intellectual property dan konser juga digambarkan sering bersitegang dengannya, bahkan ada yang menilai ADOR sebagai label yang sulit diajak bekerja sama.

Ia juga menyinggung munculnya rivalitas internal sebelum debut LE SSERAFIM dan NewJeans. Menurutnya, sejumlah petinggi HYBE pernah mendiskusikan grup mana yang harus sukses lebih dulu, bahkan ada eksekutif yang menyatakan bahwa LE SSERAFIM “harus” berhasil demi menjaga disiplin perusahaan. Min menambahkan bahwa ia pernah diperingatkan untuk berhati-hati karena adanya kecemburuan dan penolakan terhadapnya.

Min menegaskan bahwa ia menandatangani perjanjian pemegang saham karena membutuhkan ruang independensi dan kekuasaan untuk menjalankan labelnya. Ia juga menyebut bahwa mantan CEO HYBE, Park Ji-won, pernah menyampaikan ketidakpuasannya terhadap perusahaan—sesuatu yang membuat Min merasa sangat dikhianati.

Sidang masih akan berlanjut dengan agenda mendengar pihak-pihak terkait, sementara publik dan industri K-pop terus menunggu perkembangan dari salah satu perseteruan terbesar yang pernah terjadi di ranah manajemen grup idola Korea. (putri).

saluran-whatsapp-mediakampung