Media Kampung – 20 Maret 2026 | Brand lokal semakin menonjolkan koleksi Ramadan yang dapat dipadupadankan dalam beragam kegiatan, mulai dari tarawih hingga kumpul keluarga. Desain yang fleksibel menjadi prioritas utama demi kenyamanan dan penampilan rapi konsumen.

Buttonscarves menanggapi kebutuhan tersebut dengan meluncurkan koleksi Raya 2026 yang menggabungkan inspirasi budaya Mesir dan Maroko. Kedua lini, Egypt Series dan Moroccan Series, dirancang agar cocok dipakai di acara formal maupun santai.

Koleksi Egypt Series menonjolkan motif lotus yang melambangkan kehidupan baru, selaras dengan semangat Ramadan. Potongan pakaian dan scarf dirancang ringan sehingga mudah dipadu padankan dengan busana sehari-hari.

Moroccan Series mengangkat pola geometris zellige, ciri khas mozaik Maroko, ke dalam desain modern. Warna-warna kaya dan detail yang rumit tetap dipertahankan tanpa mengorbankan kepraktisan pemakaian.

Pendiri dan CEO Buttonscarves, Linda Anggrea, menekankan pentingnya storytelling dalam setiap koleksi. Ia menyatakan, “Kami ingin setiap potong pakaian membawa cerita budaya yang dapat dirasakan pemakainya.”

Menurut Anggrea, pendekatan budaya memberi nilai lebih dibanding sekadar tren visual. Ia menambahkan, “Kisah Mesir dan Maroko memberi makna mendalam, sehingga konsumen tidak hanya tampil cantik, tetapi juga terhubung dengan warisan.”

Fleksibilitas koleksi terlihat pada pemilihan bahan yang breathable dan mudah dirawat. Bahan tersebut memungkinkan pemakai tetap nyaman saat beribadah di masjid maupun saat menghadiri jamuan buka puasa.

Strategi pemasaran Buttonscarves memanfaatkan platform e‑commerce seperti Shopee, yang menggelar Big Ramadan Sale 2026. Penjualan daring mengalami lonjakan karena konsumen mencari produk yang menggabungkan estetika budaya dan kepraktisan.

Data penjualan selama periode sale menunjukkan peningkatan permintaan fashion modest dengan elemen etnik. Konsumen muda khususnya mengapresiasi kombinasi motif tradisional dengan potongan kontemporer yang mudah dipadupadankan.

Selain Buttonscarves, beberapa brand lokal lain seperti brand‑brand lainnya mengusung tema serupa, menonjolkan motif batik atau songket dalam desain yang simpel. Kesamaan tujuan menegaskan tren pasar fashion Ramadan yang mengutamakan kepraktisan.

Pengamatan pasar menyoroti pergeseran dari pakaian satu‑musim ke koleksi yang dapat dipakai sepanjang tahun. Hal ini memicu produsen untuk mengembangkan item yang tidak hanya relevan saat Lebaran, tetapi juga dalam kegiatan harian.

Para pakar mode menilai bahwa fleksibilitas desain meningkatkan nilai ekonomi bagi konsumen, karena pakaian dapat dimanfaatkan lebih lama. Mereka juga mencatat bahwa integrasi elemen budaya memperkuat identitas lokal di pasar global.

Dengan kombinasi cerita budaya, bahan yang nyaman, dan strategi penjualan daring, koleksi Ramadan brand lokal menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Keberhasilan ini diperkirakan akan terus memengaruhi tren fashion Indonesia di tahun‑tahun mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.