Media Kampung – 20 Maret 2026 | Survei yang dirilis Populix pada Maret 2026 menyoroti perubahan sikap generasi Z dan milenial terhadap pembelian pakaian Lebaran. Temuan ini menandai pergeseran pola konsumsi tradisional.

Dari total 1.000 responden, 51 persen merupakan Gen Z dan sisanya milenial, dengan 30 persen menyatakan tidak mengutamakan baju baru untuk Idulfitri. Mereka menilai pakaian layak lebih penting daripada keharusan berpenampilan baru.

Faktor keuangan menjadi pertimbangan utama, karena 26 persen responden hanya akan berbelanja bila kondisi keuangan memungkinkan. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran finansial di kalangan konsumen muda.

Meskipun hampir sepertiga masih mengaitkan Lebaran dengan baju baru, mayoritas menekankan kecukupan dan kepraktisan. Hal ini mengindikasikan nilai kebersamaan mengungguli tekanan konsumerisme.

Susan Adi Putra, Research Director Populix, menyatakan bahwa generasi ini berusaha menyeimbangkan keinginan tampil maksimal dengan realitas ekonomi pribadi. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan tradisi dengan kemampuan.

Pakaian seragam atau sarimbit tetap populer, dengan 43 persen responden melaporkan keluarga besar akan memakai busana serasi. Simbol kebersamaan menjadi motivasi utama bagi 68 persen yang memilih konsep tersebut.

Di sisi lain, 24 persen responden lebih memilih kebebasan individu dengan tidak mengenakan pakaian seragam. Pilihan ini menandakan keberagaman selera di antara generasi muda.

Hanya 2 persen responden yang mengaku tidak membeli baju Lebaran sama sekali. Angka ini menunjukkan bahwa hampir semua masih berencana berbelanja, meski dengan budget terbatas.

Rentang harga Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu menjadi pilihan paling banyak, dipilih oleh 32 persen responden. Harga ini dianggap seimbang antara kualitas dan kemampuan keuangan.

Sebanyak 25 persen memilih pakaian di bawah Rp 300 ribu, sementara 14 persen menargetkan kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu. Segmen ini mencerminkan variasi preferensi nilai.

Pengeluaran di atas Rp 1,5 juta dipilih oleh 6 persen responden, menandakan adanya konsumen yang tetap mengalokasikan dana tinggi untuk pakaian Lebaran. Namun, kelompok ini masih minoritas.

Tren ini menggambarkan pergeseran nilai konsumen muda yang menyeimbangkan tradisi, estetika, dan kemampuan finansial menjelang Lebaran 2026. Industri fashion diprediksi akan menyesuaikan koleksi dengan preferensi harga dan konsep serasi.

Para pelaku mode diharapkan mengembangkan lini yang mengedepankan fleksibilitas harga serta desain seragam yang dapat dipakai bersama keluarga. Langkah ini dapat memperkuat daya tarik di pasar Gen Z dan milenial.

Secara keseluruhan, Lebaran 2026 diprediksi tetap dipenuhi semangat kebersamaan, namun tekanan untuk membeli pakaian baru berkurang signifikan di kalangan generasi muda. Perubahan ini menandai evolusi pola konsumsi dalam konteks budaya Lebaran modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.