Lari merupakan olahraga ringan yang mudah dilakukan kapan saja tanpa memerlukan peralatan khusus. Untuk mencatat aktivitas tersebut, banyak pelari memanfaatkan aplikasi Strava di ponsel. Strava untuk lari mampu merekam sejumlah data penting seperti kecepatan berlari, jarak tempuh, serta durasi latihan secara otomatis menggunakan GPS.
Bagi pelari pemula atau mereka yang baru mulai rutin berlari, Strava sudah cukup membantu. Aplikasi ini menyajikan tiga metrik utama yang paling dibutuhkan saat lari, yakni pace, distance, dan duration. Proses penggunaannya juga sederhana karena pelari hanya perlu menekan tombol perekaman sebelum mulai berlari. Selama aktivitas berlangsung, performa lari dapat dipantau secara langsung melalui layar ponsel lengkap dengan peta rute.
Namun, penggunaan Strava hanya mengandalkan ponsel memiliki keterbatasan. Akurasi GPS pada ponsel bisa berubah-ubah tergantung posisi perangkat saat dibawa berlari. Ponsel yang disimpan di saku atau tas pinggang berisiko kehilangan sinyal satelit sehingga data jarak dan kecepatan tidak selalu presisi. Selain itu, Strava di ponsel tidak mampu mengukur kondisi fisik secara real-time, seperti detak jantung, zona latihan, atau tingkat kelelahan tubuh.
Keterbatasan tersebut dapat berdampak pada pola latihan. Angka pace yang tampil di layar sering kali mendorong pelari berlari lebih cepat tanpa mengetahui apakah intensitas tersebut masih aman bagi tubuh. Di sinilah pemantauan kondisi fisik menjadi sama pentingnya dengan pencatatan jarak dan waktu.
Untuk mengatasi hal itu, penggunaan smartwatch menjadi solusi pelengkap. Jam tangan pintar olahraga umumnya dibekali sensor khusus dan GPS yang dirancang untuk aktivitas fisik. Dengan smartwatch, pelari dapat memantau detak jantung secara real-time, melihat zona latihan, hingga menilai apakah intensitas lari tergolong ringan atau terlalu berat. Informasi ini membantu pelari menyesuaikan ritme dan menghindari risiko kelelahan berlebihan.
Beberapa smartwatch juga menyediakan data tambahan seperti cadence, estimasi VO2 max, serta saran pemulihan setelah latihan. Keunggulan lainnya terletak pada daya tahan baterai. Smartwatch olahraga mampu merekam aktivitas GPS selama berjam-jam tanpa cepat kehabisan daya, berbeda dengan ponsel yang baterainya lebih cepat terkuras saat GPS aktif.
Meski demikian, penggunaan smartwatch tidak berarti meninggalkan Strava. Data dari smartwatch dapat disinkronkan otomatis ke Strava sehingga seluruh aktivitas tetap tercatat dalam satu platform. Hasilnya, data yang tersimpan menjadi lebih lengkap karena mencakup detak jantung, akurasi jarak yang lebih baik, serta statistik performa yang lebih detail.
Lantas, apakah Strava untuk lari sudah cukup atau perlu smartwatch? Jawabannya bergantung pada kebutuhan. Untuk lari santai atau sesekali, Strava di ponsel sudah memadai. Namun, bagi pelari yang ingin berlatih rutin, mengikuti program tertentu, atau meningkatkan performa secara bertahap, smartwatch menjadi pendamping yang sangat membantu.
Pada akhirnya, perangkat hanyalah alat bantu. Konsistensi latihan dan kemampuan mendengarkan kondisi tubuh tetap menjadi kunci utama dalam berlari, baik dengan Strava saja maupun dikombinasikan dengan smartwatch.(sy)


















Tinggalkan Balasan